Kapolres Aceh Timur AKBP Muhajir mengatakan Din telah lima kali melakukan aksi jahat. “Mulai dari pengrusakan alat berat, perampasan mobil box hingga mobil truk telah dilakukan oleh Abu Minimi. Motifnya adalah meminta tebusan,” kata Muhajir saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa pekan lalu.
Polisi menduga aksi Din lebih banyak, tapi tak dilaporkan oleh masyarakat.
Kata Muhajir, Din Minimi cukup ditakuti di Aceh Timur. Dia adalah pemberontak organik. Ayahnya juga bergabung dengan GAM pada saat gerakan itu berdiri. Ayahnya terkenal dengan panggilan “Minimi”, karena kala itu ia berhasil merampas senjata TNI jenis FN Minimi. “Dia itu namanya Din, supaya lebih dikenal, dia pakai nama panggilan orang tuanya, yaitu Minimi,” kata Muhajir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abdul Muthalib, misalnya. Pria kelahiran Syamtalira Aron, Aceh Utara, 46 tahun yang lalu ini, adalah mantan kombatan yang beruntung. Dia terjun ke politik, dan kini duduk di kursi pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Utara. Muthalib, yang akrab dipanggil Thaliban ini, mengatakan dia masih meneruskan apa yang menjadi perjuangan GAM dulu, lewat kursi parlemen.
Kini, kisah sebagai kombatan selama belasan tahun itu sudah menjadi sejarah bagi Muthalib. Dia mengakui, kehidupan masyarakat Aceh kini sudah jauh lebih tenang dengan adanya Perjanjian Helsinki. “Selepas MoU Helsinki, jarang sekali kita mendegar letusan senjata. Sehingga masyarakat pun mudah mencari rezeki ke sawah dan laut dengan aman,” kata Muthalib saat ditemui CNN Indonesia di Mess DPRK, Kamis (2/10).