EVAKUASI AIRASIA
ATC Perlu 10 Menit Kabulkan Permintaan Pilot
Donatus Fernanda Putra | CNN Indonesia
Sabtu, 03 Jan 2015 05:53 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- General Manajer Air Traffic Service (ATS) Jakarta Budi Hendro Setiyono menuturkan setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk memutuskan permintaan seorang pilot yang hendak naik atau turun ketinggian terbang. Hal ini ia sampaikan menanggapi adanya anggapan bahwa petugas Air Traffic Controller (ATC) yang lambat merespon permintaan dari pesawat AirAsia QZ8501 untuk naik ke ketinggian 38 ribu kaki.
Menurut Budi, saat peristiwa nahas yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 terjadi, pilot tidak menyampaikan alasan jelas terkait permintaan tersebut. Maka pihak ATC mengasumsikan permintaan tersebut hanya karena faktor keinginan pilot untuk terbang di ketinggian ekonomis guna menghemat bahan bakar.
Budi juga menuturkan tidak ada kewajiban dari pihak ATC untuk menanyakan alasan permintaan perubahan ketinggian terbang. Hal itu menjadi kewajiban dari pilot sendiri untuk menyampaikan alasan kepada petugas ATC.
"Kewajiban kami adalah memutuskan boleh atau tidak dan untuk memutuskan itu, dalam konteks AirAsia QZ8501, butuh waktu 10 menit dan bisa lebih karena lalu lintas udara yang ramai," kata Budi di Kantor Kemenhub, Jumat (2/1).
Oleh karena itu, pihak ATC pun memberikan perintah supaya pesawat QZ8501 tetap stand by. Saat itu, jelas Budi, pilihan paling memungkinan selain stand by adalah naik di ketinggian 34 ribu kaki. Sebelumnya di ketinggian yang sama juga telah melintas pesawat AirAsia lain dengan selamat.
Hal ini tidak berlaku bila pilot menyebut tengah dalam situasi emergency. Budi menyampaikan bila memang situasi darurat, maka apapun bisa dilakukan.
"Kalau memang darurat lebih memungkinkan adalah turun ketinggian bukan naik. Yang paling sering diminta pilot adalah berbelok ke kiri atau ke kanan, hampir tidak pernah pilot meminta naik ketinggian," ucapnya. (pit/pit)
Budi juga menuturkan tidak ada kewajiban dari pihak ATC untuk menanyakan alasan permintaan perubahan ketinggian terbang. Hal itu menjadi kewajiban dari pilot sendiri untuk menyampaikan alasan kepada petugas ATC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, pihak ATC pun memberikan perintah supaya pesawat QZ8501 tetap stand by. Saat itu, jelas Budi, pilihan paling memungkinan selain stand by adalah naik di ketinggian 34 ribu kaki. Sebelumnya di ketinggian yang sama juga telah melintas pesawat AirAsia lain dengan selamat.
"Kalau memang darurat lebih memungkinkan adalah turun ketinggian bukan naik. Yang paling sering diminta pilot adalah berbelok ke kiri atau ke kanan, hampir tidak pernah pilot meminta naik ketinggian," ucapnya. (pit/pit)