Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP) Agus Rahardjo mengatakan pada 2014, baru sepertiga dari total belanja negara senilai Rp 810 triliun yang memanfaatkan sistem pengadaan elektronik.
"Totalnya baru Rp 280 triliun, itupun yang menggunakan SPSE dari awal hingga akhir hanya Rp 184 triliun, " kata Agus saat ditemui di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (20/1).
Padahal, sistem pengadaan elektronik LKPP dinilai efektif untuk mengurangi celah korupsi pengadaan barang dan jasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Publik melihat LKPP dengan sebelah mata, padahal lembaga ini dahsyat. Mereka adalah penegak hukum yang diam. Tidak tertulis tapi perannya penting. LKPP berkontribusi di hampir sebagian besar pembuktian kasus korupsi pengadaan barang dan jasa," ujarnya.
Sementara itu, mengenai kewajiban instansi pemerintah dalam SPSE telah diatur pemerintah dalam Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2015, tentang Pengadaan Barang/Jasa. Perpres tersebut merupakan pengganti Perpres Nomor 54 Tahun 2010.
Selain itu, peraturan tersebut juga memuat tentang percepatan proses pelaksanaan pengadaan barang/ jasa menjadi 5 sampai 10 hari, pengembangan e-tendering serta pengadaan barang/jasa di desa yang wajib mengacu pada pedoman LKPP.