Menurut Koordinator Formasbudi, Rahmulyo Adi Wibowo, aksi ini merupakan langkah antisipasi agar Malaysia tidak lagi melakukan klaim kepada produk ataupun budaya Indonesia.
Dia juga menambahkan, demonstrasi ini berangkat dari kekhawatiran keluarga sang penemu Lunpia, yaitu Ibu Meme, keluarga keturunan Tionghoa yang bertempat di Semarang, yang menjadi pembuat Lunpia pertama bersama pengusaha dan masyarakat sekitar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bowo menjelaskan, lumpia kini telah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai budaya warisan harta benda Indonesia, sejak 17 Oktober 2014 lalu . Selain itu, Dinas Pariwisata (Disparta) Provinsi Jawa Tengah juga akan mengusulkan Lunpia ke UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
"Ini adalah antisipasi. Jangan sampai kemalingan, baru ada pos ronda. Kita antisipasi," kata Bowo.
Dari pantauan CNN Indonesia, ada sekitar 30 orang massa yang turun dalam aksi dama ini. Sebanyak 20 anggota personel kepolisian terlihat melakukan penjagaan di depan Kedutaan Besar Malaysia, Jalan HR. Rasuna Said.
(Baca juga: Lumpia Semarang, 'Perkawinan Rasa' Tiongkok dan Indonesia)
Bowo berharap, lewat aksi demonstrasi mendatangi Kedubes Malaysia ini, pemerintah Malaysia tidak akan sembarangan mengklaim sejumlah produk dan kebudayaan milik Indonesia.
"Jangan coba-coba mengklaim budaya dan warisan kita. Kita harus antisipasi agar semua itu tidak terjadi lagi," kata Bowo. (meg)