Namun, Ansyaad enggan berspekulasi lebih jauh dari mana masuknya zat kimia beracun tersebut. Untuk hal itu, mantan kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror menyerahkan sepenuhnya kepada penyidik kepolisian.
Tahun lalu, klorin kerap digunakan sebagai senjata kimia dalam konflik di Suriah. Zat klorin ini digunakan pada sebuah serangan di desa Talmanes, Al Tamanah dan Kafr Zita, terakhir pada 28 Agustus lalu.
Ketika ditanyai soal hubungan zat kimia ini dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Ansyaad belum berani meyimpulkan. "Tunggu sajalah ya siapa yang tertangkap dan dari jaringan mana, tidak bisa mengira-ngira," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyatakan, sebelumnya zat kimia hanya digunakan teroris untuk meracik bahan peledak atau meracun targetnya. "Sebelumnya kan pernah di Solo ditemukan bahan peledak nitrogliserin. Selain itu pernah juga di Kemayoran menggunakan zat kimia untuk meracun anggota kepolisian," ujarnya.
Wakapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti ditemui sebelumnya menyatakan gas ini sungguh berbahaya. Hanya saja, dalam kasus Depok, rangkaiannya tidak bekerja sempurna sehingga tidak memakan korban.
Letupan di ITC Depok terjadi Senin (23/2), sekitar pukul 18.00, WIB dan diduga berasal dari sebuah benda mencurigakan yang terletak di sebuah kamar mandi di lantai dua. Lokasi itu bahkan berada tak jauh dari tempat bermain anak-anak di pusat perbelanjaan.
Menurut salah satu sumber CNN Indonesia yang tak mau disebut namanya, letupan tersebut menghasilkan asap dan sempat membuat anggota tim gegana yang melakukan pengamanan mengalami reaksi gatal-gatal. (sip/sip)