"Kalau seperti itu, situasinya tegang. Pasti akan ada perlawanan dari sana (kedua kubu). Kalau ada perlawanan, nanti rakyat yang rugi," ujar Ganjar di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika kesepakatan tak tercapai, Ganjar menilai lebih baik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah (APBD) tahun lalu.
Menurut Ahok, modus penambahan dana ini sengaja dititipkan oleh oknum angota dewan melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Oknum DPRD memaksa SKPD untuk memasukkan tambahan dana tersebut karena menganggap pihak SKPD takut dan tidak akan berani menolaknya.
Di sisi lain, DPRD marah karena merasa dibohongi Pempriv DKI yang mengirim draf APBD 2015 versi e-budgeting kepada Kementerian Dalam Negeri utanpa mencantumkan mata anggaran hingga satuan ketiga.
Namun Ahok berkeras memakai draf versi tersebut karena menurutnya DPRD hendak memasukkan anggaran fiktif Rp 12,1 triliun itu. (agk)