Tiga Kata Warga Jakarta untuk Ahok: Berani, Tegas, Arogan

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 19/03/2015 15:41 WIB
Tiga Kata Warga Jakarta untuk Ahok: Berani, Tegas, Arogan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memegang poster dukungan untuknya di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (3/3). (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, meski kerap terlibat konfrontasi dengan DPRD DKI Jakarta, ternyata dinilai baik dari segi kinerja oleh warga Jakarta. Hal itu merupakan hasil survei Populi Center, lembaga kajian nirlaba yang mendalami opini dan kebijakan publik.

Survei Populi Center yang dirilis hari ini, Kamis (19/3), menunjukkan 60 persen dari 1.000 responden yang disurvei, puas terhadap kinerja Ahok dalam menyelesaikan sengkarut masalah di ibu kota. Sementara sepertiga responden sisanya menyatakan ketidakpuasan terhadap Ahok.

Berdasarkan survei itu dari skala penilaian 1-10, sebanyak 26 persen responden memberi penilaian kinerja Ahok di angka 7. Sementara 29,1 persen memberi nilai di angka lima ke bawah.


“Artinya Ahok sampai saat ini masih mendapat dukungan positif dari rakyat Jakarta,” kata Ketua Populi Center Nico Harjatmo di kantornya, Jakarta, Kamis (19/3).

Hal menarik dari survei Populi Center ialah, ketika responden disodorkan pertanyaan terbuka mengenai apa yang mereka ingat ketika mendengar nama Ahok, banyak jawaban yang identik.

“Selain dikenal sebagai seorang gubernur, Ahok diidentikkan responden sebagai sosok yang berani, tegas, dan arogan," ujar Nico.

Selain tiga kata yang paling banyak disebut responden untuk Ahok itu, kata-kata lain yang dipilih rakyat Jakarta untuk merepresentasikan sosok Ahok adalah aspiratif, blak-blakan, emosional, temperamen, cerdas, kritis, disiplin, jujur, dan banjir.

Namun respons publik terhadap Dewan Perwakilan Rakyat DKI Jakarta lain lagi. Hasil survei Populi Center menunjukkan mayoritas publik Jakarta mengidentikkan wakil rakyat mereka dengan kata korupsi, Haji Lulung, dana siluman, dan kisruh.

Survei Populi Center dilakukan pada 11-15 Maret 2015 di enam wilayah DKI Jakarta di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Kepulauan Seribu. Jajak pendapat dilakukan secara tatap muka dengan 1.000 responden yang dipilih dengan metode acak bertingkat (multistage random sampling), dengan margin of error sekitar 3,09 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. (agk/agk)