Menurut pengamat politik anggaran dan kebijakan publik LIPI Syafuan Rozi menilai, pergub ini bisa digunakan oleh Ahok sebagai cara mediasi yang elegan dengan DPRD DKI.
"Caranya, Ahok harus mengalihkan anggaran di pos yang bermasalah yang disebutkan oleh Kemendagri ke pos-pos yang pro rakyat. Dan benar Ahok mengalihkan salah satunya untuk banjir," tuturnya saat dihubungi CNN Indonesia, Minggu (22/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Syafuan belum melihat proyek yang benar-benar inovatif dari Pemprov DKI. Dia mengusulkan, ada baiknya, untuk mengatasi kemaceten, Pemprov bisa mempertimbangkan kereta gantung.
Ahok sendiri menyatakan, salah satu anggaran pos yeng bermasalah, yakni pembelian UPS bagi sejumlah sekolah senilai Rp 330 miliar akan dialokasikan untuk menangani banjir.
Sebagaimana dikutip dari detik.com, dana itu akan digunakan untuk membeli tanah dan menyelesaikan tanggul untuk mencegah banjir, termasuk banjir kiriman dari laut.
Dikatakannya, sepanjang 2014 lalu banyak sekali pokok-pokok pikiran (pokir) yang diajukan oleh dewan dalam APBD. Hal ini membuat sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa) DKI Jakarta begitu besar.
"Jadi banyak sekali titipan-titipan dari oknum DPRD di belakang dalam bentuk pokir yang sudah diakui oleh mantan ketua (mantan Ketua DPRD DKI periode lalu Ferial Sofyan) itu adalah kebiasaan dia, makanya kita Silpa kan. Kalau tahun ini ada nggak? Ya nggak ada dong," terang Ahok.
"Tanah dulu juga mesti anggota DPRD yang ngatur lokasinya, sekarang enggak (karena) gelondongan. Selama harganya sesuai NJOP atau harga pasar, kita bayar. Makanya sejarah pokir terbesar di DKI kenapa 2014 karena banyak kita temukan permainan titip menitip yang nggak perlu dan kita potong, makanya begitu 2015 kita paksa e-budgeting supaya keluar nih omongan mereka nih. Akhirnya, keluar kan memfitnah kami bahwa ini palsu. Padahal, bukan palsu (tapi) barangnya nggak jadi masuk," lanjutnya.
(hel)