Menurutnya, guru dan orang tua adalah orang orang yang paling dekat dengan siswa. "Ada lima puluh juta lebih siswa saat ini di Indonesia, siapa yang hendak memantau? Harus ada komunikasi intensif antara orangtua dan guru sekolah," kata Anies usai menghadiri Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2015, Depok, Jawa Barat, Senin (30/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua karena buku itu dikerjakan mengejar waktu. Untuk sementara buku itu kami tarik dulu," kata Anies ditemui di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (20/3). (Baca juga: Soal Buku Sesat, Anies: Dibuat Asal Jadi dan Tergesa-Gesa)
Pikiran Vs Pikiran
Anies sepakat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bahwa gerakan ISIS lahir dari pikiran maka harus dilawan pula dengan pikiran. "Pikiran harus dilawan dengan pikiran lagi, bukan hal lain" kata Anies.
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) telah menekankan hal yang sama. Gerakan-gerakan radikal lahir dari kelemahan suatu negara yang
kemudian melahirkan ideologi yang mampu memakan negara tersebut. Tak hanya ISIS, fenomena Boko Haram di Nigeria pun menjadi salah satu contoh gerakan yang lahir dari kelemahan negara.
JK menganalogikan jika ideologi itu virus dan memasuki tubuh dalam kondisi lemah maka dengan mudahnya virus bisa masuk. Melihat makin berkembangnya gerakan radikal Islam, JK meminta para pemuda mengutamakan perang lewat ideologi.
"Mengutip kata Malala, Gadis yang melawan Taliban, 'They can shoot my body, but they can't shoot my mind'. Pikiran haruslah diubah dengan ideologi yang benar, tanpa itu maka akan sulit," kata JK. (Baca juga: Hari Ini Menag Kirim Edaran Larangan Penggunaan LKS Sesat) (sur)