Tiga Deputi Siap Rangkap jadi 'Jubir' Jokowi

Resty Armenia, CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2015 08:25 WIB
Tiga Deputi Siap Rangkap jadi 'Jubir' Jokowi Deputi Kantor Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho dan Darmawan Prasodjo di lorong depan Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (31/3).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kantor Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan menyampaikan, tiga dari lima deputinya akan memiliki tugas untuk memberikan penjelasan teknis kepada publik setelah Presiden Joko Widodo menjelaskan suatu hal dalam sebuah rapat atau pertemuan.

Tiga deputi tersebut antara lain Deputi I Bidang Monitoring dan Evaluasi dipegang oleh Darmawan Prasodjo, Deputi II Bidang Pengelolaan dan Kajian Program Prioritas dipegang Yanuar Nugroho, dan Deputi III Bidang Pengelolaan Isu Strategis dipegang Purbaya Yudhi Sadewa.

"(Jika) Presiden sudah memberikan (penjelasan) dalam rapat terbatas, maka penjelasan teknis akan diberikan tiga orang, yaitu Yanuar, Purbaya, dan Darmawan. Soal makro ekonomi, apa yang ditangani Presiden, nanti Purbaya yang akan memberikan penjelasan," ujar Luhut di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Kamis (2/4).


Luhut menjelaskan, dalam pemerintahan Presiden Jokowi seringkali menggelar rapat terbatas (ratas), sehingga proses pengambilan keputusan cenderung cepat.

"Satu hari rapat bisa lima kali. Dan lima kali itu bisa tujuh agenda. Dan tujuh agenda itu bisa enam kali diputuskan dan dilaksanakan. Tapi ini negara besar dan hasilnya itu tentu tidak bisa segera terlihat. Ini baru akan kelihatan hasilnya 1,5 tahun sampai dua tahun ke depan," kata dia.

Luhut meyakinkan bahwa Kantor Staf Kepresidenan akan terbuka dalam berkomunikasi demi kepentingan publik, sehingga tidak ada anggapan bahwa Presiden tidak bekerja dengan baik. "Presiden itu kerja keras," kata dia.

Juru bicara presiden bukanlah hal baru. Pada era Orde Baru, juru bicara presiden seringkali perannya dirangkap oleh Menteri Sekretaris Negara. Salah satu yang terkenal adalah mantan Mensesneg almarhum Moerdiono. Lalu di era transisi masa Presiden Habibie, Dewi Fortuna Anwar ditunjuk sebagai juru bicara. Pada era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ada empat juru bicara, Wimar Witoelar, Adhie Massardi, Yahya C Staquf dan Wahyu Muryadi.

Pada saat Megawati Soekarnoputri jadi presiden, tidak ada juru bicara kepresidenan. Saat presiden Susilo Bambang Yudhoyono, juru bicaranya adalah Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal serta Julian Andrin Pasha. (pit/pit)