Segudang Jejak Teror Daeng Koro di Mata Polisi

Sandy Indra Pratama & Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2015 10:45 WIB
Segudang Jejak Teror Daeng Koro di Mata Polisi Salah satu anggota kelompok teroris Santoso yang tewas saat baku tembak dengan anggota Brimob dan Densus 88 berada dalam mobil ambulans untuk diidentifikasi di Polres Parigi, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). (ANTARA/Fiqman Sunandar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian telah memastikan bahwa salah seorang teroris yang tewas dalam baku tembak di Pegunungan Sakina Jaya, Sulawesi Tengah adalah Daeng Koro, seorang pemuka dalam kelompok Santoso. Ia sebelumnya, pernah masuk dalam daftar buronan kepolisian untuk segudang perkara terorisme.

Menurut catatan kepolisian, Daeng Koro memang terlibat beberapa peristiwa teroris yang pernah terjadi. Daeng Koro alias Sabar Subagyo alias Jimmy alias Autad Rawa alias Ocep alias Abu Muhammad mengikuti kegiatan terorisme sejak Juni 2012.

Peranannya dalam dunia terorisme pun terbilang sangat sentral besar. Lelaki yang dideteksi sempat tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara ini, pernah melatih kemampuan militer para kelompok radikal. Terutama saat meletupnya konflik Ambon maupun Poso. Bukan hanya itu, nama Daeng Koro alias Jimmy juga masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) lantaran keterlibatannya dalam banyak kegiatan terorisme. (baca juga: Daeng Koro Pentolan Kelompok Teroris Santoso Diduga Tewas)



Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Rikwanto, Daeng Koro tercatat sebagai pelatih dan ketua pelaksana beberapa kegiatan tadrib ‘askari atau latihan militer yang digelar di Tuturuga, Kabupaten Morowali dan Gunung Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah; serta Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Ia juga terdeteksi berperan dalam Kasus kerusuhan Mambi pada tahun 2005. Saat itu terjadi konflik antara kelompok pro dan kontra pemekaran di tiga desa yaitu Arale, Tambulahan, Arale, dan Mambi di Kecamatan Mamasa untuk menjadi Kabupaten. Kelompok Jimmy alias Daeng Koro diduga adalah kelompok penyerang yang propemekaran.

Selain itu, sekitar tujuh tahun lalu, terpidana 20 tahun penjara kasus teroris peledakan kafe Sampoddo, Luwu, Sulawesi Selatan bernama Jasmin melarikan diri dari Lapas Kelas I Makasar. Diduga, Daeng Koro, warga Tanjung Priok yang juga pernah tergabung dalam kelompok FPI, bersama dengan Muhamad Itang, membantu pelarian Jasmin.

Daeng Koro juga disebut sebagai aktor intelektual dalam pembunuhan dua anggota Polres Poso, Briptu Andi dan Brigadir Sudirman, di Kampung Tamanjeka, Desa Masani, Poso, Oktober 2012. Jenazah Andi dan Sudirman saat itu ditemukan dalam satu lubang dengan kedalaman satu meter. (Baca juga: Faktor Lokasi dan Cuaca Hambat Penangkapan Teroris Poso)

Sang gembong kelompok teroris Santoso itu pun terlibat penghadangan dan penembakan anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah di Desa Ambrana, sekitar Gunung Kalora, Desember 2012. Saat itu tiga anggota Polri tewas, yakni Brupti Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu I Wayan Putu Ariawan.

Selanjutnya, Daeng Koro disebut berperan sebagai perakit dan eksekutor bom di Desa Pantangolemba, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Februari 2014. Ia lalu terlibat kontak senjata dengan polisi di Pegunungan Ladopi, Dusun Gayatri, Desa Kilo, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Februari 2014.

“Dia juga terlibat pengadaan senjata yang saat ini menjadi sentara inventaris MIT (Mujahidin Indonesia Timur),” kata Rikwanto, Sabtu (4/4).

Polri menyebut Daeng Koro menjadi penghubung antara Kelompok MIT dengan Kelompok Makassar, dan menjadi ahli strategi pergerakan Kelompok MIT.

Terakhir, Daeng Koro dituding menjadi aktor intelektual dalam penembakan seorang warga di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Juni 2014. Wilayah itu memang menjadi lokasi aktivitas kriminal kelompok teroris pimpinan Santoso. (sip)