Ada 170 Sekolah Tidak Diizinkan Laksanakan UNCBT

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Senin, 13/04/2015 13:44 WIB
Ada 170 Sekolah Tidak Diizinkan Laksanakan UNCBT Staf sekolah mempersiapkan perangkat komputer yang akan digunakan untuk ujian nasional computer based test (UNCBT) di SMK Negeri 1 Jakarta, Minggu, 12 April 2015. UNCBT dilaksanakan pada 13-16 April dan dilanjutkan pada 20-21 April dalam tiga sesi yaitu pada pukul 07.30-09.30, 10.30-12.30 dan 14.00-16.00. (CNN Indoensia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ujian Nasional Computer Based Test (UNCBT) merupakan sebuah terobosan baru di dunia pendidikan. Siswa tidak perlu lagi menghabiskan waktu mengarsir jawaban dan juga lebih hemat dalam hal biaya.

Karena masih dalam tahap uji coba, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun membuka kesempatan bagi sekolah-sekolah untuk melaksanakan UNCBT. Namun, kesempatan hanya diberikan untuk sekolah yang dianggap mampu melaksanakan UNCBT tersebut.

Sebanyak 170 sekolah yang mengajukan permintaan mengadakan UNCBT tercatat ditolak oleh Kemendikbud. Hanya 556 sekolah yang akhirnya berhasil mendapatkan persetujuan Kemendikbud untuk melaksanakan UNCBT.


Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud, Nizam.

"Kami lihat 170 sekolah itu belum siap. Maka kami katakan kepada mereka agar jangan terlalu memaksakan diri," kata Nizam, usai sidak UN di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (13/4).

Dia menjelaskan, dana untuk pelaksanaan UNCBT berasal dari kocek sekolah. Karenanya, hanya sekolah yang fasilitasnya sudah mumpuni yang dapat memenuhi syarat melaksanakan UNCBT.

Salah satu persyaratan yang dibutuhkan adalah memiliki jumlah komputer yang cukup, yakni minimal satu komputer digunakan oleh tiga siswa.

Selain itu, diharapkan pula sekolah memiliki genset sehingga mencegah kemungkinan terjadinya mati listrik. Meski demikian, genset tidak menjadi syarat utama.

Selain itu, Nizam juga mengharapkan komputer di sekolah bukan hanya digunakan saat UNCBT, tetapi juga dapat digunakan untuk proses pembelajaran sehari-hari.

"Yang kami temukan di lapangan adalah komputer hanya dijadikan pajangan di beberapa sekolah," kata Nizam soal ratusan sekolah yang masuk dalam kategori belum siap.

Menanggapi berita tentang sekolah yang mengeluarkan ratusan juta untuk melaksanakan UNCBT, Nizam menyebut hal itu menjadi hak sekolah yang bersangkutan.

"Kalau mereka mau mengembangkan teknologi, saya rasa itu cukup baik. Namun, jangan sampai hanya untuk UNCBT, apalagi sampai pinjam uang sana sini," ujarnya.

Sementara itu, Mendikbud Anies Baswedan mengatakan dirinya menyangsikan adanya sekolah yang mengeluarkan uang hanya untuk mendapatkan izin melakukan UNCBT.

"Saya meragukan berita itu. Sekolah harus punya fasilitas dulu, baru mengajukan diri untuk melaksanakan UNCBT," ujarnya.

Anies mengatakan, komputer harus dijadikan investasi untuk pembelajaran, bukan hanya diadakan untuk UNCBT.

"Jadi, siswa sudah terbiasa menggunakan komputer. Mungkin saja sekolah sudah pesan tahun lalu, tetapi baru sampai tahun ini," katanya.

UNCBT menjadi salah satu terobosan Kemendikbud karena dianggap lebih hemat biaya dan hemat waktu. Panitia tidak perlu mencetak soal lagi dan mengirimkannya ke sekolah-sekolah.

"Minimal, hemat 20 persen untuk biaya cetak. Yang sangat besar itu adalah biaya logistik. Dengan UNCBT mungkin bisa hemat biaya 30 persen lebih," kata Anies.

Dia menambahkan, "Indonesia kalau kirim soal ujian, volume kertasnya bisa seberat batu. Bayangkan harus dikirim ke Sulawesi atau daerah lainnya." (Baca: FOKUS - Cara Baru Ujian Nasional)

Selain memberikan keuntungan lebih hemat dalam pengadaan ujian, UNCBT juga dinilai dapat meredam praktik curang yang selama ini telah mengakar.

Karena, soal UNCBT baru dapat diunduh H-1 UNCBT. Namun, soal yang sudah diunduh belum bisa dibuka saat ini juga.

Nantinya, siswa diberikan kata sandi yang harus dimasukkan ke aplikasi UNCBT.

"Kata sandi baru diberikan saat siswa sudah ada di ruangan ujian. Dan kata sandi itu akan hangus bila sudah mencapai batas waktu maksimal," katanya. (meg/meg)