FSGI: Jumlah Laporan Kecurangan UN Menurun

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Kamis, 16/04/2015 11:15 WIB
FSGI: Jumlah Laporan Kecurangan UN Menurun Para siswa di SMK 6 Samarinda sedang melakukan UNCBT, (Dok.Tim Pemantau UNCBT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, menyatakan jumlah laporan kecurangan Ujian Nasional (UN) tahun ini menurun, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau tahun 2014 pada H-3 FSGI sudah menerima 11 laporan jual beli kunci jawaban, maka pada UN 2015 pada H-2 baru dua laporan jual beli kunci yang diterima FSGI, yaitu di Jawa Timur dan DKI Jakarta," kata Retno saat konferensi pers di gedung YLBHI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).

Retno menjelaskan, di daerah Jawa Timur, laporan jual beli kunci jawaban UN berasal dari Mojokerto dan Lamongan. Harga kunci jawaban mencapai Rp 14 juta. Sementara, di DKI Jakarta, harga kunci berkisar Rp 14 juta hingga Rp 21 juta. "Para siswa rata-rata patungan Rp 50 ribu per anak," katanya.


Pada UN 2011, FSGI menerima 102 laporan. Pada UN 2012, laporan naik menjadi 317 buah. Sementara, pada UN 2013, FSGI menerima 1.035 laporan. Jumlah laporan kemudian menurun pada UN 2014, yaitu 304 laporan. "Pada UN 2015 ini, kami hanya menerima 91 laporan," kata Dewan Kehormatan FSGI, Guntur Ismail.

Pada hari pertama UN, laporan datang dari Kepulauan Riau. Seorang guru yang menjadi panitia UN di sekolahnya kaget mendapati para siswa sudah memiliki kunci jawaban untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Kimia dan Geografi.

Namun ternyata, kunci jawaban untuk Bahasa Indonesia banyak yang tidak cocok, sehingga para siswa mengoceh karena panik.

“Biasanya pada setiap kunci jawaban akan tertulis pertanyaan soal nomor 1 dan 2 untuk memastikan bahwa itu adalah jawaban soal yang didapat siswa yang bersangkutan, sehingga ketika tidak ada kunci yang menunjukkan pertanyaan nomor 1 dan 2, maka si peserta UN yang hanya mengandalkan kunci tanpa belajar akan panik,” kata sekretaris Serikat Guru Indonesia-Jakarta, Slamet Maryanto.

Dugaan soal UN PBT (Paper Based Test) bocor juga dilaporkan seorang pengawas di Jakarta. Dua hari sebelum UN, pengawas tersebut sudah menemukan tautan soal-soal UN 2015 yang bisa diunduh secara mudah di internet.

Soal tersebut terdiri atas 30 tipe soal UN kelas IPA untuk mata pelajaran berbeda, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris Matematika, Fisika, Biologi dan Kimia. Rata-rata mata pelajaran terdiri dari lima tipe soal.

“Saat si guru mendapat soal tersebut, dia sudah penasaran ingin membuktikan apakah cocok dengan soal yang akan diujikan pada UN 2015, ternyata baru Bahasa Indonesia saja sudah ditemukan soal yang cocok bahkan sama persis dengan soal yang beredar di internet tersebut," kata Ketua SEGI Jakarta, Heru Purnomo.

Pada pelaksanaan UN hari kedua, FSGI kembali menerima laporan bahwa soal yang diunduh di dunia maya tersebut ternyata sama persis untuk wilayah Pemalang, Bandung dan Jakarta.

Untuk Jakarta, berdasarkan hasil pantauan, beberapa soal sama, tetapi hanya dibedakan angkanya saja, tingkat soal yang sama untuk Jakarta mencapai 50% dan hampir sama (hanya beda angka) 50% juga.

Modus lain dari kecurangan adalah dilaporkannya beberapa kasus siswa mencontek menggunakan handphone dan sobekan kertas di beberapa daerah, seperti Bekasi, Bogor, Bandung, Lamongan dan Jakarta.

Pada pelaksanaan UN 2015, FSGI membuka posko pengaduan UN di 46 kota/kabupaten, seperti Medan, Deli Serdang dan Binjai (Sumatera Utara); Purbalingga dan Pemalang (Jawa Tengah); Mojokerto, Blitar, Gresik, Lamongan, Malang, Sidoarjo, Tulungagung, Banyuwangi dan Surabaya (Jawa Timur); Indramayu, Garut, Bandung, Bekasi, Bogor dan Tasikmalaya (Jawa Barat), kota Mataram, kota dan kabupaten Bima (NTB), Jambi, DKI Jakarta, Bengkulu, Batam dan Pekan Baru (Kepulauan Riau), Balikpapan, Kutai Barat, dan lain-lain. (meg/meg)