Rodrigo Gularte Kerap Bicara dengan Tembok Jelang Eksekusi

Helmi Firdaus & Aulia Bintang Pratama, CNN Indonesia | Minggu, 26/04/2015 16:46 WIB
Rodrigo Gularte Kerap Bicara dengan Tembok Jelang Eksekusi Rod
Jakarta, CNN Indonesia -- Hanya ada meja dan beberapa kursi di ruangan kosong yang berada di dalam kompleks Penjara Pasir Putih Nusakambangan. Tampaknya, ruangan itu sengaja disiapkan bagi para terpidana eksekusi mati untuk bertemu dengan keluarganya, perwakilan dari negaranya masing-masing beserta kuasa hukumnya.

Ricky Gunawan bersama dengan rombongan perwakilan dari Brasil menunggu Rodrigo Gularte. Jam menunjukkan pukul 9 pagi lebih beberapa menit. Gularte yang berkaos hitam, celana pendek putih dengan topi kuning dibalik ke belakang dengan dikawal oleh beberapa sipir masuk ke ruangan itu. “Dia masuk dengan santai,” kata Ricky saat dihubungi CNN Indonesia, Minggu (26/4).

Ricky bercerita, saat masuk ke kompleks Penjara Pasir Putih, rombongan Gularte bersama dengan rombongan dari Bali Nine, terpidana mati asal Australia. Namun karena rombongan Bali Nine sebut Ricky lebih besar, mereka jadi lebih sulit diatur sehingga rombongan Gularte bisa masuk lebih awal.


Pertemuan itu, ungkap Ricky, berlangsung hampir sekitar tiga jam setengah. Dia bersama dengan rombongan keluar dari ruangan itu ketika jam hampir menunjukkan pukul setengah 1 siang.

“Setelah kami ke luar, Gularte akan dibawa kembali ke sel isolasi. Dia didampingi dengan rohaniawan. Kalau nanti ada kunjungan lagi, Gularte akan dibawa lagi ke ruang pertemuan itu,’ papar Ricky yang tengah berada lagi di Dermaga Wijayapura, Cilacap untuk kembali mengunjungi Gularte setelah pagi hingga siang tadi.

Selama pertemuan dengan Gularte, Ricky mengaku Gularte berhalusinasi ke mana-mana. “Minum air di sini (Cilacap) dan di tempat lain di dunia, harus berhati-hati karena sekarang air sudah dimasuki racun,” ujar Ricky menirukan Gularte ketika ditanya bagaimana soal makanan dan minuman sehari-hari di Penjara Pasir Putih.

Lalu, Gularte kembali menyebutkan bahwa dirinya tidak akan dihukum mati karena akan diselamatkan oleh Kerajaan Brasil. “Padahal Brasil kan bukan kerajaan,” ungkap Ricky.

Tingkah aneh Gularte yang divonis mati karena kasus pengedaran narkoba ini juga diungkapkan tim kuasa hukum Rodrigo yang baru, gabungan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM) yang selama kurang lebih tiga bulan mendampingi Rodrigo di Nusakambangan.

"Di dalam lapas Rodrigo melakukan komunikasi dengan kipas angin dan tembok," kata Alex Argo Widoyo, salah satu kuasa hukum Rodrigo yang juga anggota KontraS saat ditemui di Jakarta, Ahad (26/4).

Tingkah-tingkah seperti itulah yang menurut Alex membuktikan jika Rodrigo benar-benar mengalami gangguan kesehatan, dalam hal ini gangguan kejiwaan. Alex mengungkapkan secara medis dirinya memang tidak bisa membuktikan apakah Rodrigo sadar dengan apa yang dia buat atau tidak. Namun yang pasti, tegas Alex, kliennya memang sedang mengidap sebuah keanehan.

Tingkah lain yang mengundang keanehan adalah dirinya hingga kini yakin jika dia akan diampuni oleh raja. Rodrigo yakin dirinya tidak akan dieksekusi mati dan nanti akan ada sosok malaikat yang akan memaafkannya.

Alex menambahkan, Rodrigo tahu mengenai vonis mati yang dijatuhkan pengadilan kepadanya namun tetap tidak percaya jika dia akan dieksekusi mati. Menurut Alex, Rodrigo masih yakin jika dirinya akan segera dipulangkan ke negara asalnya Brasil.

"Rodrigo punya keyakinan jika dirinya akan diampuni oleh raja. Dia mengatakan akan ada malaikat yang akan datang dan memaafkan dirinya. Dia tahu akan dieksekusi, tetapi tidak percaya akan dieksekusi dan lebih percaya dia akan pulang ke Brasil,” ujar Alex.

Sebelumnya Alex mengatakan tim kuasa hukumnya sudah menemukan 22 bukti baru (novum) yang nanti akan disertakan saat mereka mengajukan PK ke Pengadilan Negeri Tangerang, Senin (27/4).

Sebanyak 22 novum tersebut semuanya menguatkan opini jika Rodrigo benar-benar mengidap Skizofrenia. Bahkan, dalam novum tersebut dikatakan Rodrigo sudah mengalami gangguan jiwa sejak 1982 dan kakak serta adiknya pun mengidap penyakit yang hampir sama.

Kini pemerintah Indonesia bersiap mengeksekusi gelombang kedua terpidana mati kasus narkoba. Ada sepuluh terpidana yang akan dieksekusi dalam waktu dekat ini di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa tengah.

Sepuluh terpidana mati tersebut di antaranya adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dari Australia, Okwudili Oyatanze, Silvester Obiekwe Nwolise, dan Raheem Agbaje Salami dari Nigeria, Rodrigo Gularte dari Brasil, Sergei Areski Atlaoui dari Perancis, Martin Anderson dari Ghana, Zainal Abidin dari Indonesia, dan Mary Jane Fiesta Veloso dari Filipina. (gen)