Suara Sharan Burrow Perempuan Pemimpin Buruh Internasional

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Jumat, 01/05/2015 07:03 WIB
Suara Sharan Burrow Perempuan Pemimpin Buruh Internasional Sekretaris Jenderal International Trade Union Confederation Sharan Burrow saat ditemui CNN Indonesia, Kamis (30/4). (CNN Indonesia/ Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- ‎"It's not hard to stand up for people"

Kata-kata tersebut yang disampaikan oleh Sharan Burrow, wanita asal Australia yang saat ini menjadi pimpinan buruh internasional. Menurutnya tidak sulit untuk berjuang bagi orang lain. Hal tersebut bukan hanya menjadi sebuah ucapan bagi perempuan berumur 61 tahun ini. Sharan telah melakukan banyak hal untuk memperjuangkan kesejahteraan para buruh di banyak negara.

Sekretaris Jenderal International Trade Union Confederation (ITUC) hadir di Indonesia untuk mendukung acara May Day hari Jumat (1/5). Kehadirannya bukan tanpa tujuan. Ia datang untuk menyuarakan perubahan untuk kesejahteraan para buruh. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing di Indonesia.


"Outsourcing adalah salah satu bentuk eksploitasi bagi para tenaga kerja," ujar Sharan saat berbincang dengan CNN Indonesia.
Berbicara mengenai buruh, Sharon berdiri di jajaran paling depan, terutama bagi para buruh yang bekerja di pabrik, call centers dan lokasi konstruksi bangunan. "Mereka dieksploitasi secara tersembunyi," katanya.

Sharron tak lupa untuk memberikan perhatian secara khusus bagi para buruh perempuan. Ia mendengar dan melihat banyaknya perlakuan buruk yang diterima oleh para buruh perempuan Indonesia, mulai dari dipaksakannya lembur bagi perempuan yang telah berkeluarga, tingginya pajak yang diberikan hingga kasus pemukulan, penganiayaan dan pelecehan seksual.

"Tapi tidak ada yang mau bersuara bagi mereka," kata Sharan.

Oleh sebab itu, Ia mengungkapkan rencana kampanye untuk menghentikan keserakahan perusahaan atau korporasi bahkan yang level multinasional. Dalam waktu 12 bulan, ia akan menyarankan hal tersebut secara global.
Menurut perempuan yang lahir di New South Wales ini, begitu banyak perusahaan yang meraup keuntungan dengan begitu besar namun memberikan upah yang begitu rendah kepada para buruh.

"Hal itu sangat tidak bisa diterima. Dengan kondisi seperti itu, para tenaga kerja menjadi korban pengeksploitasian korporasi," kata dia menegaskan.

Rendahnya upah kerja, tidak baiknya jaminan kesehatan yang diberikan dan tidak jelasnya dana pensiun menjadi hal yang selama ini diserukan para buruh. Namun, Sharan mengatakan hal tersebut hanya bagian dasar. Yang menjadi bagian terpenting adalah bagaimana memberikan perlakuan yang bermartabat bagi para buruh.
"Kami membutuhkan sistem di masyarakat dan sistem kerja di perusahan yang baru dan berbeda," kata Sharan.

"Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di semua negara," ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, perjuangan Sharan untuk para buruh telah dilakukannya sejak belasan tahun yang lalu. Mengawali karirnya sebagai guru SMA, Sharan kemudian menjadi Presiden Perdagangan dan Dewan Buruh pada 1980-an.

Lebih lanjut, Ia juga terpilih menjadi Presiden Australian Education Union pada 1992. Kemudian menjadi Wakil Presiden Edukasi Internasional pada 1995 hingga 2000.

Tidak berhenti disitu, Sharan menjadi perempuan kedua yang terpilih menjadi Presiden Dewan Serikat Buruh Australia (ACTU). Terus menanjak, Ia menjadi presiden perempuan pertama dari Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC) pada 2006.

Pada Kongres II Dunia yang diselenggarakan oleh ITUC di Vancouver 2010 silam, kongres buruh Kanada dengan bangga mencalonkan Sharan menjadi Sekretaris Jenderal, dan ia pun terpilih menjadi Sekjen perempuan pertama di ITUC hingga kini. (utd/utd)