LIPUTAN KHUSUS HARI BURUH

Cerita Buruh Gay yang Cari Selamat

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Jumat, 01/05/2015 10:31 WIB
Cerita Buruh Gay yang Cari Selamat Revan, pekerja gay yang tergabung dalam LSM Jejaka Sekre, Cimahi. (CNN Indonesia/ Olivia Mayer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepada CNN Indonesia, akhir April lalu, ia mengaku bernama Revan. Usia jejaka kelahiran kota kembang Bandung ini baru menginjak 24 tahun. Revan adalah seorang buruh yang baru saja keluar dari pabrik tesktil yang terletak di kawasan Cimahi, Jawa Barat. Sebagai buruh yang memilih menjadi biseksual dengan kecenderungan homoseksual, ia kenyang dengan pengalaman tak mengenakkan.

Bertepatan dengan hari buruh Internasional yang jatuh tepat pada 1 Mei setiap tahunnya, CNN Indonesia mencoba mengungkap cerita para buruh yang belum pernah mengemuka sebelumnya. Dan inilah cerita Revan dan beberapa rekan sesamanya:

“Beberapa bulan lalu, saya baru saja keluar dari pabrik tesktil yang terletak di kawasan Cimahi, Jawa Barat. Sebab, terlalu banyak pengalaman tidak menyenangkan yang saya alami. Saya adalah seorang biseksual. Saya punya rasa tertarik terhadap perempuan, juga laki-laki. Namun, saya merasa sisi gay saya lebih kuat. Dalam pikiran saya, ketertarikan terhadap perempuan 40 persen, sementara ketertarikan terhadap laki-laki 60 persen. (Baca Juga: Coba Selami Cerita Diskriminasi Bagi Buruh Pelangi)

Namun dalam menjalani pilihan hidup ini, saya punya impian untuk menikah suatu hari, tentunya setelah memantapkan jati diri terlebih dulu. Orang mungkin menganggap cerita saya ini aneh, namun itu benar-benar keinginan saya. Bukan karena desakan orangtua atau tekanan dari masyarakat. Saya punya mimpi untuk punya anak dan istri.

Saat saya bekerja, meski tak pernah saya deklarasikan bahwa diri saya adalah seorang gay, namun stigma dan diskriminasi kerap mendera. Dicibir dan dihina adalah makanan setiap hari. Terutama dari sesama rekan sekerja. Dari mulut tajam mereka, lontaran hinaan seolah sarapan.(Lihat Juga: Cerita Hidup Felicia, Seorang Buruh Pabrik Waria)


Istilah hinaan mereka terhadap saya adalah LSL, “laki suka laki”.

Pernah suatu kali saya mencoba mendekati teman perempuan satu pabrik. Namun cobaan lantas datang, yakni muncul cibiran dari laki-laki lainnya. Bukan hanya melontarkan cibiran yang menyayat hati saya, tetapi mereka juga berusaha mendoktrin perempuan yang bersangkutan agar menjauh dari saya.

Rekan buruh lainnya selama ini memandang saya sebelah mata. Hanya karena saya juga punya rasa ketertarikan terhadap laki-laki. Celakanya, saat rasa ketertarikan terhadap sesama pria itu muncul pekerjaan saya pun ikut terganggu. Saya jadi tidak fokus dan performa kerja saya pun memburuk.

“Pantesan kamu belom nikah, kamu mah homo.” Itu! Itulah hinaan yang paling membuat perih hati saya! Saya jadi melamun, kok sampai hati berkata seperti itu. Padahal, saya tidak pernah mengganggu mereka.(Lihat Juga: Kisah Perjuangan Hidup Mantan Buruh Lesbian)

Demi keamanan diri, saya tidak pernah mengungkapkan bahwa saya biseksual di lingkungan pabrik. Baru menduga saja, omongan mereka sudah begitu kejam. Bagaimana bila saya mengakui? Buat saya, pabrik bukanlah tempat yang aman untuk mengakui bahwa saya biseksual.”

Menyembunyikan jati diri agar tidak dihina, itu yang biasa Revan lakukan. Dalam masalah ini ternyata ia tidak sendiri, CNN Indonesia lantas berkesempatan bertemu beberapa buruh yang bernasib sama. Diskriminasi sosial yang begitu tinggi membuat para buruh gay memutuskan untuk menutup jati dirinya rapat-rapat di lingkungan pabrik. Beberapa dari mereka juga menutupi orientasi seksualnya di lingkungan keluarga.

“Saya takut dijauhi teman-teman kerja. Takut dipertanyakan, ‘Ih, kenapa, sih, kamu homo?’” ujar Arief (24) yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik pembuatan kasur saat ditemui di kawasan Cimahi, Jawa Barat, akhir April lalu.

Arief menyesalkan perlakuan masyarakat luas yang masih memandang negatif kaum gay dan biseksual. “Padahal, homoseksual bukan penyakit. Tidak menular. Seorang homoseksual pun kalau tertarik ke seorang gay, pasti berpikir dua kali, enggak langsung nyosor,” kata pria yang bekerja sebagai buruh pabrik selama tiga tahun tersebut.

Ia juga menyesalkan guyonan dan hinaan seksis yang selalu diberikan kepadanya. Muncul lontaran seperti “Kenapa, sih, kamu enggak ikutan main bola? Cewe banget!” ketika Arief menolak ajakan bermain bola.

Lain Arief, ada pula kisah Decky, buruh gay yang baru berusia 22 tahun. Kepada CNN Indonesia ia bercerita pernah didiskriminasi oleh atasan karena orientasi seksualnya. Lini Decky memilih menutup jati dirinya rapat-rapat di lingkungan kerjanya yang baru, pabrik cokelat di daerah Sadang, Purwakarta, Jawa Barat.

Belum sebulan bekerja di sana, Decky berusaha lebih hati-hati dengan menutupi orientasi seksualnya. “Sekarang saya lebih menutup diri. Tidak ada yang tahu sama sekali (kalau saya gay). Sebenarnya banyak yang gay juga di pabrik itu, ketebak. Saya cari aman saja,” kata Decky.

Keputusan Decky tersebut memang bukan tanpa alasan. Ia terpaksa keluar dari pekerjaanya yang dulu karena dimarahi oleh atasan yang tidak suka dengan gayanya yang feminin. Padahal gaya feminin tak pernah mengurangi efektifitas pekerjaan yang ia lakukan.

“Atasan marah dan mempertanyakan mengapa gaya saya kecewek-cewekan. Saya bilang, ‘Tak apa, lah, Pak, yang penting kerja saya beres.’ Namun, dia tetap tidak suka,” tutur Decky mengenang.

Maka tak mengherankan, bila kemudian Decky memilih untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Tak dipungkiri, terkadang muncul suatu dorongan dalam hatinya untuk menunjukkan ke dunia luas bahwa ia adalah seorang gay.

Decky sebenarnya lebih senang bergaya feminin dibandingkan maskulin. “Sampai sekarang, belum bisa mengekspresikan diri saya sesuai dengan diri saya sesungguhnya. Kadang, rasanya gatel juga pengen ngondek-ngondekan,” kata Decky.

Kisah Revan, Arief, dan Decky hanyalah sebagian kecil kisah kaum gay yang terpaksa menutupi jati dirinya supaya 'selamat'. Menjadi diri sendiri dan bebas berekspresi masih menjadi kemewahan di negeri ini.

Hari ini adalah hari buruh internasional. Namun hingga saat ini, belum ada hitungan pasti seberapa besar komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Sebab masih banyak yang belum bersedia membuka diri soal ini. Lembaga Buruh Internasional (ILO) bersama dengan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian tentang persepsi anggota serikat buruh tentang pekerja LGBT (lesbian, biseksual, gay, transgender). Judul penelitian ini adalah Gender Identity and Sexual Orientation: Promoting Rights, Diversity and Equality in the World of Work (PRIDE).

Riset ini menunjukkan bahwa pekerja LGBT masih kerap mendapatkan diskriminasi. Ditemukan bahwa mereka sulit mengakses pekerjaan, terutama pekerjaan di sektor formal, karena banyak pemberi kerja yang homophobic dan karena lingkungan (pada umumnya) tidak ramah terhadap kaum LGBT. Sementara, mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan juga kerap mengalami perlakuan diskriminatif seperti dihina, dijauhi, dirisak, diancam, dan bahkan mengalami kekerasan secara fisik.

Aktivis LGBT Dede Oetomo berpendapat transgender, terutama waria, mengalami diskriminasi paling berat di antara semuanya. Ekspresi gender dan orientasi seksual yang terlihat jelas membuat kehadiran mereka begitu menonjol dan menjadi pusat perhatian. Dalam banyak kasus, waria paling kesulitan mendapatkan pekerjaan dibandingkan lesbian, gay, biseksual, maupun priawan. Maka tak jarang, waria kerap menjadi pekerja seks komersial karena keterbasan pilihan pekerjaan tersebut.

(utd/utd)