Demokrat Bantah Dekati Megawati demi Posisi di Pemerintahan

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 08:08 WIB
Demokrat Bantah Dekati Megawati demi Posisi di Pemerintahan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Antara/Andika Wahyu)
Surabaya, CNN Indonesia -- Partai Demokrat terlihat gencar mendekati Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menjelang Kongres IV Demokrat di Surabaya, Jawa Timur yang dibuka malam ini, Selasa (12/5). Demokrat menyatakan pendekatan tersebut sama sekali bukan untuk mengincar posisi di pemerintahan sehubungan dengan posisi PDIP sebagai partai penguasa saat ini.

Ketua Harian Demokrat Syarif Hasan menegaskan posisi partainya bagi pemerintah adalah sebagai kekuatan penyeimbang. Oleh sebab itu, ujar mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah itu, mustahil Demokrat memikirkan kemungkinan masuk ke pemerintahan.

"Nomenklatur penyeimbang itu artinya berada di luar pemerintah. Kami tidak pernah mau dapat menteri dan sebagainya," ujar Syarif. (Baca juga Maju Ketua Umum Demokrat, SBY: Jangan Ganggu Jokowi)


Fokus Demokrat saat ini, menurut Syarif, hanya ingin memperhatikan masyarakat. Oleh karena itu Kongres Demokrat mengambil tema, 'Untuk Rakyat Demokrat Peduli dan Beri Solusi'.

Apapun, Demokrat berterima kasih kepada Megawati karena telah menerima pendekatan Demokrat dengan baik. Partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono itu pun tetap berharap Mega dan Presiden Jokowi sebagai dua tamu penting dari PDIP bisa hadir dalam pembukaan Kongres Demokrat. (Baca juga: Syarif Ungkap Hangatnya Pertemuan dengan Megawati)

Namun Demokrat memahami bila Megawati terkendala kesibukan. "Bu Mega mengatakan beliau menjadi Ketua Umum sibuk sekali. Sementara Presiden mengatakan akan hadir, tapi kami pahami juga kesibukannya," ujar Syarif.

Beda kata Demokrat, beda kata pakar politik. Pengamat politik LIPI Indria Samego menilai ada alasan politis di balik pendekatan SBY terhadap Megawati. PDIP adalah partai nasionalis terbesar di Indonesia. Jika Demokrat dan PDIP bisa bekerjasama, maka akan jadi kekuatan besar di perpolitikan Indonesia.

Posisi PDIP dan Demokrat sendiri masuk empat besar partai politik di tanah air. Pada Pemilu Legislatif 2009, Demokrat berada di peringkat pertama dengan 20,85 persen perolehan suara, sedangkan PDIP di posisi ketiga dengan 14,03 persen suara. Sementara di Pemilu Legislatif 2014, PDIP di peringkat pertama dengan 18,95 persen suara dan Demokrat di peringkat keempat dengan 10,19 persen suara.

“Saya kira SBY perlu juga untuk merangkul kekuatan nasionalis, dan itu ada di PDIP. Kalau mereka bisa dekat, bisa jadi kekuatan yang besar baik di DPR atau di pemilihan kepala daerah," ujar Indria. (Baca juga: Akan Jadi Kekuatan Besar jika SBY dan Mega Dekat)

SBY lewat salah satu cuitan di akun Twitter-nya, @SBYudhoyono mengatakan, "Sungguh indah jika konstituen Ibu Megawati dan konstituen saya tidak terus 'berjarak' dan bisa bersatu demi kepentingan bangsa dan negara."

Hubungan antara SBY dan Megawati selama ini dikenal penuh ketegangan. Ini bermula sejak SBY mengundurkan diri sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di era Megawati. SBY yang kemudian mencalonkan diri sebagai presiden, menantang mantan atasannya itu. Padahal sebelumnya SBY mengatakan tak berminat menjadi calon presiden.

Pada akhirnya SBY yang maju di Pemilihan Presiden 2004 bersama Jusuf Kalla, berhasil mengalahkan Mega yang waktu itu berpasangan dengan Hasyim Muzadi. (Baca juga: Cuitkan Undang Mega ke Kongres, SBY Dinilai Sentimentil)

Salah satu orang yang terus berusaha untuk 'mencairkan' hubungan antara Mega dengan SBY adalah almarhum Taufiq Kiemas yang tak lain adalah suami Mega sendiri sekaligus Ketua MPR. (pit/agk)