Kepada CNN Indonesia, Kapten kapal Sea Shepherd Global, Siddharh Chakravarty, menceritakan pengalaman kru kapalnya saat menolong anak buah kapal Thunder yang ditelantarkan dan dibiarkan terombang ambing di tengah lautan. Dari 40 orang anak buah kapal, ternyata 30 orang diantaranya merupakan warga Indonesia. (Baca juga: Cerita Para Budak Indonesia di Atas Kapal Neraka)
Menurut Sidd, saat kapal Sea Shepherd ingin menangkap kapal Thunder, kapten dan awak kapalnya memilih untuk menenggelamkan kapal mereka sendiri. "Mereka menenggelamkan diri untuk menghilangkan barang bukti," kata Sidd.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu bukti yang sangat signifikan adalah hasil tangkapan ikan illegal yang ditengarai bernilai US$ 10 juta atau setara Rp 13 miliar. Nilai tersebut terbilang sangat fantastis.
Perbudakan Hantui ABK Indonesia
Parahnya lagi, kondisi dari kebanyakan kapal pencuri ikan itu umumnya di bawah standar, dan ABK yang dieksploitasi itu tidak mendapat bayaran selama masa kerja mereka, dan baru diizinkan kembali ke Tanah Airnya setelah tiga hingga empat tahun.
"Dan yang lebih parahnya, terjadi kekerasan fisik yang dilakukan oleh kapten kapal. Dunia harus tahu, apa yang dilakukan di atas kapal hanya untuk memenuhi konsumsi seafood negara Eropa dan Amerika serikat (AS)," katanya. (Baca Juga: Kisah Bahtera Pencabut Nyawa Budak Indonesia)
Sebelumnya, CNN Indonesia pernah menulis ihwal perbudakan yang menimpa banyak ABK Indonesia di kapal-kapal pencuri ikan milik bangsa asing. Cerita soal perbudakan dituturkan dari orang-orang yang pernah langsung mengalami kepedihan bekerja di kapal penangkap ikan ilegal. Menteri Kelautan dan Perikanan sempat memberikan perhatian khusus soal perbudakan ABK asal Indonesia ini. Namun, menurut Forum Solidaritas Pekerja Indonesia Luar Negeri (FSPILN) yang beranggotakan kebanyakan bekas ABK Indonesia korban perbudakan, upaya pemerintah masih jauh dari maksimal. (sip)