Riset Indonesia Tertinggal Dibanding Negara di Asia Tenggara

Yohannie Linggasari , CNN Indonesia | Rabu, 27/05/2015 19:27 WIB
Riset Indonesia Tertinggal Dibanding Negara di Asia Tenggara Ilustrasi riset sains. (Thinkstock/Alexander Raths)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan, riset di Indonesia kian tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Akibatnya, inovasi mandek yang mengakibatkan riset di Indonesia belum dapat memberikan pengaruh signifikan pada pertumbuhan ekonomi.

Nasir menyayangkan minimnya lulusan insinyur di Indonesia. Bila dibandingkan, lulusan ilmu sosial yang jauh lebih banyak. "Padahal kalau ekonomi mau maju, harus ada banyak insinyur," kata Nasir.

Nasir menuturkan, jumlah insinyur di Indonesia hanya 2.667 orang per 10 juta orang. Sementara di Malaysia, jumlahnya 3.336 orang per 10 juta orang. Minimnya jumlah insinyur berpengaruh juga terhadap jumlah publikasi riset.

"Kalau bicara soal publikasi, kita masih tertinggal jauh. Sekarang posisi kita setara dengan Vietnam," kata Nasir.

Singapura adalah negara dengan jumlah publikasi riset tertinggi di Asia Tenggara. Bahkan, kata Nasir, Indonesia juga sudah jauh tertinggal dari Thailand. Padahal sempat berada pada posisi yang sejajar pada tahun 1990-an.

"Tahun 1990-an kita dengan Malaysia juga setara. Namun sejak tahun 2000-an, riset Malaysia meningkat pesat," kata Nasir.

Nasir menyayangkan jumlah anggaran negara untuk riset yang hanya berjumlah Rp 5,5 triliun. "Sekarang strateginya adalah bagaimana bila inovasi yang sudah ada bisa dipakai oleh dunia usaha dan industri," kata Nasir.