Sarat Muatan Politik, Abah Ipul Santai Urusi Lapindo 9 Tahun
Helmi Firdaus | CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2015 15:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Siang itu sekira medio tahun lalu, Bupati Sidoarjo, Saiful Illah tengah duduk di ruang kerjanya. Pintunya diketuk. Seorang stafnya masuk dan menyerahkan kepadanya sebuah foto.
Agak mengkerut mukanya ketika dia melihat foto itu. “Ada poster yang ditancapkan di Lumpur Lapindo. Tulisannya, “Bupati Sidoarjo Cangkeme Bosok (muluknya busuk),” katanya saat berbincang dengan CNN Indonesia, Jumat (29/5). Dalam Bahasa Indonesia, tulisan dalam poster itu artinya Bupati Sidoarjo bermulut busuk.
“Ya kalau membaca itu gimana ya rasanya. Saya sudah berusaha menjalankan amanah sebagai fasilitator antara warga saya dengan Lapindo dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan soal Lapindo ini. Ya itu saya lihat bagian dari menjalankan amanah lah,” ujarnya, tersenyum.
Abah Ipul, begitu dia biasa disapa, adalah sosok yang hangat, cenderung blak-blakan dan suka berbicara dengan Bahasa Indonesia dicampur dengan Bahasa Jawa khas Jawa Timuran.
Sejak semburan lumpur keluar dari Sumur Banjarpanji-1 Porong, Sidoarjo, milik PT Lapindo Brantas Inc. 29 Mei sembilan tahun lalu, bisa dibilang hidup politisi PKB ini kemudian melekat dengan Lumpur Lapindo. “Waktu semburan awal, saya ya langsung ngurusin. Wong waktu itu saya wakil bupati,” jelasnya. (Baca juga: Hari Ini, Sembilan Tahun Sidoarjo Digempur Lumpur)
Saat semburan pertama, Abah Ipul masih menjadi Wakil Bupati Sidoarjo. Dia menjadi wakil dari Bupati Win Hendrarso. Abah Ipul yang kelahiran 9 Agustus 1945 mengaku sudah tidak ingat lagi berapa kali dia bolak-balik Sidoarjo-Jakarta untuk mengurusi masalah Lumpur Lapindo.
“Pokoknya hampir apapun yang berkaitan dengan Lumpur Lapindo, apakah itu saya menyampaikan aspirasi warga saya, atau pun dipanggil pemerintah pusat soal ini, saya pasti datang,” kata dia.
Sembilan tahun mengurusi perkara yang pelik dan banyak kepentingan sebagaimana Lumpur Lapindo tentulah membutuhkan banyak hal. Abah menyadari itu. Tetapi anehnya, dia mengaku tak pernah letih mengurusi. “Mau bagaimana, itu kan urusan warga saya. Amanah warga saya. Saya harus menjalankannya,” katanya.
Dia mengaku banyak hal yang dikorbankan untuk mengurusi semburan lumpur yang telah menenggelamkan sekitar 400 hektare apapun yang ada di sekitarnya dan 300 hektare wilayah lainnya yang ikut terdampak. Waktu, tenaga, pikiran dan pastinya uang.
Sejak semburan itu, setiap Lebaran, para korban itu pasti datang ke rumahnya. Abah Ipul pastinya tak bisa menolak. Kemudian ada saja yang diminta mereka atau yang diberikan Abah Ipul. “Ya mereka juga kan ingin Lebaran,” ujarnya. (Baca juga: Korban Lapindo: Hidup Sudah Susah, Kami Tunggu Ganti Rugi)
Mantan manajer klub sepak bola Deltras Sidoarjo mengaku kadang stres juga jika memikirkan peliknya persoalan Lumpur Lapindo. Agar tak terlalu stres memikirkan Lumpur Lapindo dan persoalan lainnya, Abah Ipul mengaku menjalani dengan sersan saja.
“Saya ini serius tapi santai, sersan. Semua pekerjaan, saya kerjakan dengan serius tapi santai. Kalau memang waktunya harus istirahat dan tidur ya saya istirahat dan tidur. Kalau ndak begitu, wah bahaya saya,” katanya lalu tertawa.
Mengaku banyak saja ngobrol dengan orang-orang yang dekat dengan dia membuatnya Sersan. Membicarakan banyak hal, mulai hal penting sampai hal yang tidak penting, sebutnya. Terkadang dari pembicaraan itu muncul beberapa pilihan atas perkara Lumpur Lapindo.
“Lumpur Lapindo ini kan persoalan besar, tidak bisa diselesaikan satu orang saja. Makanya saya sering ngobrol saja,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pemerintahan Daerah Seluruh Indonesia ini. (Baca juga: Sembilan Tahun Bencana Lapindo, Jokowi Diminta Hukum Pelaku)
Agak mengkerut mukanya ketika dia melihat foto itu. “Ada poster yang ditancapkan di Lumpur Lapindo. Tulisannya, “Bupati Sidoarjo Cangkeme Bosok (muluknya busuk),” katanya saat berbincang dengan CNN Indonesia, Jumat (29/5). Dalam Bahasa Indonesia, tulisan dalam poster itu artinya Bupati Sidoarjo bermulut busuk.
“Ya kalau membaca itu gimana ya rasanya. Saya sudah berusaha menjalankan amanah sebagai fasilitator antara warga saya dengan Lapindo dan pemerintah pusat untuk menyelesaikan soal Lapindo ini. Ya itu saya lihat bagian dari menjalankan amanah lah,” ujarnya, tersenyum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak semburan lumpur keluar dari Sumur Banjarpanji-1 Porong, Sidoarjo, milik PT Lapindo Brantas Inc. 29 Mei sembilan tahun lalu, bisa dibilang hidup politisi PKB ini kemudian melekat dengan Lumpur Lapindo. “Waktu semburan awal, saya ya langsung ngurusin. Wong waktu itu saya wakil bupati,” jelasnya. (Baca juga: Hari Ini, Sembilan Tahun Sidoarjo Digempur Lumpur)
“Pokoknya hampir apapun yang berkaitan dengan Lumpur Lapindo, apakah itu saya menyampaikan aspirasi warga saya, atau pun dipanggil pemerintah pusat soal ini, saya pasti datang,” kata dia.
Sembilan tahun mengurusi perkara yang pelik dan banyak kepentingan sebagaimana Lumpur Lapindo tentulah membutuhkan banyak hal. Abah menyadari itu. Tetapi anehnya, dia mengaku tak pernah letih mengurusi. “Mau bagaimana, itu kan urusan warga saya. Amanah warga saya. Saya harus menjalankannya,” katanya.
Dia mengaku banyak hal yang dikorbankan untuk mengurusi semburan lumpur yang telah menenggelamkan sekitar 400 hektare apapun yang ada di sekitarnya dan 300 hektare wilayah lainnya yang ikut terdampak. Waktu, tenaga, pikiran dan pastinya uang.
Sejak semburan itu, setiap Lebaran, para korban itu pasti datang ke rumahnya. Abah Ipul pastinya tak bisa menolak. Kemudian ada saja yang diminta mereka atau yang diberikan Abah Ipul. “Ya mereka juga kan ingin Lebaran,” ujarnya. (Baca juga: Korban Lapindo: Hidup Sudah Susah, Kami Tunggu Ganti Rugi)
Mantan manajer klub sepak bola Deltras Sidoarjo mengaku kadang stres juga jika memikirkan peliknya persoalan Lumpur Lapindo. Agar tak terlalu stres memikirkan Lumpur Lapindo dan persoalan lainnya, Abah Ipul mengaku menjalani dengan sersan saja.
“Saya ini serius tapi santai, sersan. Semua pekerjaan, saya kerjakan dengan serius tapi santai. Kalau memang waktunya harus istirahat dan tidur ya saya istirahat dan tidur. Kalau ndak begitu, wah bahaya saya,” katanya lalu tertawa.
Mengaku banyak saja ngobrol dengan orang-orang yang dekat dengan dia membuatnya Sersan. Membicarakan banyak hal, mulai hal penting sampai hal yang tidak penting, sebutnya. Terkadang dari pembicaraan itu muncul beberapa pilihan atas perkara Lumpur Lapindo.
“Lumpur Lapindo ini kan persoalan besar, tidak bisa diselesaikan satu orang saja. Makanya saya sering ngobrol saja,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pemerintahan Daerah Seluruh Indonesia ini. (Baca juga: Sembilan Tahun Bencana Lapindo, Jokowi Diminta Hukum Pelaku)
Banyak Muatan Politik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA