Philips Mau Leto mengatakan bahwa kekurangan gizi juga menjadi salah satu penyebab lambatnya anak-anak di Belu memahami Bahasa Indonesia sampai saat ini.
Menurut Felix, sapaan Philips, anak-anak usia sekolah di lokasinya menjalankan tugas memang kerap berangkat ke sekolah tiap harinya tanpa terlebih dahulu menyantap sarapan dari rumah. Jarangnya sarapan yang mereka konsumsi dipandang Felix turut berpengaruh terhadap daya tangkap anak terhadap pembelajaran bahasa di sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada yang sarapan pun tidak terlalu cukup gizinya. Misal, ya, ada yang memakan jagung tapi tidak diolah dengan tambahan lain sehingga kurang juga gizinya. Nah, ini yang juga harus menjadi perhatian dan faktor lambatnya menggunakan bahasa Indonesia," kata Felix.
Menurut Koordinator Program BELAJAR (Better Literacy for Academic Result) dari Save The Children, Benny Giri, saat ini ada 59,7 persen dari 700 anak berusia 8-10 tahun di Belu yang masih kesulitan membaca dan memahami Bahasa Indonesia. Bahkan, mereka mengalami sedikit kesulitan untuk mengenali kalimat dalam Bahasa Indonesia.
“Lebih dari separuh dari 700 anak terdata buta aksara, atau lebih tepatnya kesulitan membaca dalam bahasa Indonesia. Semakin mendekati perbatasan, jumlah anak yang kesulitan membaca semakin tinggi persentasenya," ujar Benny . (hel)