Perhelatan yang akan digelar pada 14-18 Oktober 2015 ini akan menjadi ajang bagi Indonesia untuk memamerkan karya literatur sastrawan dalam negeri. Tak hanya itu, sebagai tamu kehormatan, Indonesia juga berkesempatan untuk menunjukkan kekayaan karya seni dan budayanya dalam 3.000 event yang disuguhkan selama pameran di seluruh penjuru Kota Frankfurt.
"Ini berdempetan dengan pertemuan dengan G-20 dan UNESCO, jadi Pak Presiden akan datang ke pertemuan G-20 dan dilanjutkan dengan pembukaan Frankfurt Book Fair," ujar Anies di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sangat besar. Persiapannya sudah dijalankan hampir dua tahun," kata dia.
Yang unik bagi bidang sastra, imbuh Anies, Jerman adalah pintu masuk ke dunia Barat dalam dunia sastra. "Buku yang diterjemahkan ke bahasa Jerman, maka dia dengan mudah diterjemahkan ke bahasa lain, karena masuk ke bahasa Jerman itu adalah ukuran. Karena itu Indonesia menterjemahkan banyak sekali karya sastra," kata dia.
Ia bercerita, kunjungan 17 wartawan Jerman ke Istana adalah untuk menuliskan secara khusus mengenai penunjukan Indonesia sebagai Guest of Honor itu.
"Mereka ditemani Ketua Komite Nasional Frankfurt Book Fair Goenawan Mohamad dan Pak Slamet Rahardjo. Jadi tadi Presiden menyambut baik dan menjelaskan bahwa event-event seperti ini penting. Beliau cerita, pada saat mengelola kegiatan furniture, itu 16 kali datang untuk pameran di Jerman," ujar dia. (pit)