Tengok Laporan Keuangan PSSI 2014: Timnas Beban Terberat

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Jumat, 05/06/2015 16:53 WIB
Tengok Laporan Keuangan PSSI 2014: Timnas Beban Terberat Kantor Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Jakarta. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Tim Transisi bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga Bibit Samad Rianto mengaku tengah menindaklanjuti temuan awal oleh Tim Sembilan terkait dugaan praktik korupsi di tubuh PSSI. Bibit menyebut timnya masih mendalami sejumlah informasi, data, dan dokumen yang telah diperoleh. Salah satu dokumen yang diyakini bakal dicermati adalah laporan keuangan PSSI.

Kala menggelar Kongres Tahunan 2015, Bendahara Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Husni E Hasibuan menyampaikan laporan keuangan induk olahraga bola sepak itu sepanjang tahun lalu. Dalam pengantar itu disebutkan bahwa laporan keuangan 2014 ini masih belum laporan teraudit, tetapi dibuat PSSI sendiri (in house) per 31 Desember 2014. Alasannya adalah waktu kongres tahunan yang ada di awal Januari membuat pengurus tidak memungkinankan untuk memberikan laporan tahunan teraudit.

Dalam laporan tahunan 2014 itu disebutkan bahwa total pendapatan PSSI sebesar Rp 131,448 miliar. Disebutkan pula bahwa beban pengeluaran terbesar adalah untuk biaya tim nasional junior hingga senior.


Dalam laporannya PSSI menerangkan bahwa sumber pendapatan mereka dibagi menjadi dua. Pertama sebesar Rp 121,834 miliar dari pendapatan tidak terikat dan Rp 9,6 miliar dari pendapatan terikat, yakni bantuan dari FIFA dan AFC. (Baca FOKUS: Tudingan Korupsi Menerpa PSSI)

Penyumbang terbesar pendapatan tidak terikat adalah dari sponsor sebera Rp 100,257 miliar atau sebesar 76% dari totak pendapatan. Penyumbang terbesar kedua adalah bantuan sebesar Rp 24,613 miliar atau 19%.

Pendapatan lainnya berasal dari denda sebesar Rp 1,8 miliar (5%) dan tiket pertandingan sebesar Rp 1,820 miliar. Lalu ada juga dari pendapatan lain-lain Rp 2,7 miliar dan pendapatan non operasional sebesar Rp 248 juta.

Dalam laporan keuangan PSSI 2014 juga disebutkan total beban pengeluaran adalah Rp 126,775 miliar. Beban pengeluaran itu dibagi dua, pengeluaran tidak terikat sebesar Rp 117,952 miliar dan pengeluaran terikat Rp 8,823 miliar untuk pengeluaran terikat sebagaimana diatur oleh FIFA dan AFC.  (Baca juga: Laporan Keuangan PSSI Dinilai Tak Transparan ke Publik)

Beban pengeluaran terberat sebesar 47 persen alias Rp 60,039 miliar untuk pembiayaan tim nasional. Pembiayaan tim nasional itu untuk tim junior dan senior. Penggunaannya untuk biaya tanding baik di dalam dan luar negeri, biaya training center, uang saku dan kebutuhan lainnya.

Beban pengeluaran terberat kedua adalah biaya pertandinga sebesar Rp 23,2 miliar (18,3%). Biaya ini termasuk untuk pertandingan uji coba tim nasional. Ongkos yang paling mahal untuk item ini adalah biaya mendatangkan tim lawan.

Biaya lainnya adalah untuk menyelenggarakan kompetisi amatir sebesar Rp 5,036 miliar (4%). Berikutnya adalah biaya untuk pengembangan (development) sebesar Rp 15,639 miliar (12,35). (Baca juga PSSI: Kalau Kami Korupsi Seperti FIFA, Tangkap!)

Biaya development ini untuk penyelenggaraan kursus-kursus, sepak bola wanita, pembuatan majalah, gaji direktur teknis, pengembangan program keanggotaan, biaya konsultasi manajemen dan hukum serta biaya lainnya.

Lalu ada biaya exco sebesar Rp 1,48 miliar (1,2%), biaya komite-komite Rp 1,645 miliar (1,3%) . Kemudian biaya komisi peradilan sebesar Rp 628 juta dan renovasi Rp 851 juta. Biaya renovasi ini tidak dimasukkan dalam aktiva tetapi beban biaya karena bantuan dari FIFA. Setelah itu ada juga biaya kesekjenan sebesar Rp 6,129 miliar (4,8%) dan beban umum dan administrasi sebesar Rp 12,076 miliar (9,5%).

(hel)