Dipilihanya Indonesia oleh kepolisian Myanmar merupakan hasil pertimbanagan yang menyatakan bahwa Indonesia dan Myanmar memiliki kasamaan dalam berbagai aspek, khususnya budaya dan perilaku masyarakat.
"Jadi secara Myanmar dan Indonesia itu hampir sama, dari dulu itu hampir sama jadi di dalam Asean ada 10 negara tapi Indonesia dengan Myanmar sangat mirip kejadiannya," ujar Kepala Sabhara Kepolisian Myanmar Brigadir Jenderal Mya Win melalu penerjemah di Gedung Sabhara Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mya Win menuturkan, pemilu yang akan diselenggrakan pada bulan November 2015 merupakan sebuah titik kebangkitan demokasi di negaranya dari genggaman junta militer. "Sekarang ini demokrasi, jadi pelan-pelan saja, tidak bisa langsung berubah, jadi sedikit demi sedikit," uajrnya.
Selain itu, Mya Win menyebut bahwa pemerintah Myanmar menilai Polri sebagai sebuah instansi besar dan memiliki kemampuan yang sistematik dalam menjalankan tugas. Pemerintah Myanmar juga menilai kelebihan tersebut membuat Indonesia dapat menjaga stabilitas pemerintahan.
Perlu diketahui, pada tahun 1958 Jenderal Newin menjatuhkan Perdana Menteri U Nu. Kejatuhan U Nu dari tampuk kepemimpinan merupakan titik awal junta militer terjadi di Myanmar.
Di bawah kepemimpinan Jenderal Ne Win Myanmar berubah menjadi pemerintahan militer hingga puluhan tahun lamanya. Meski terjadi aksi demontrasi besar-besaran pada tahun 1987 dan tahun 1988, aksi tersebut tidak mengubah keadaan dan menjadikan Myanmar dijalankan secara diktator dan otoriter. (rdk)