Ahok, sapaan Basuki, mengakui penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukannya kerap terjadi karena banyaknya 'permainan' yang dilakukan pihak swasta dengan oknum Pemprov DKI Jakarta.
Dia mengatakan, permainan lahan di Jakarta dilakukan oleh oknum-oknum Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang jaringannya sudah seperti mafia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecurigaan mantan Bupati Belitung Timur itu mencuat setelah menduga adanya jaringan mafia tanah di Jakarta yang muncul karena seringnya kekalahan dialami Pemprov DKI Jakarta, saat berhadapan dengan pihak yang bersengketa tanah di muka pengadilan.
Setelah mengungkapkan kekesalannya, Ahok pun berjanji akan berusaha mengembalikan aset-aset milik Pemprov DKI Jakarta yang telah hilang. Walaupun, Ahok mengaku kehilangan aset Pemprov DKI Jakarta bukan terjadi karena kesalahannya sejak memimpin Jakarta bersama Joko Widodo 2012 lalu.
"Memang aset hilang dari jaman saya? Itu dari jaman Gubernur Sutiyoso. Kita tahu ini, kita ini sedang cari aset yang bermasalah, bisa menang tidak di pengadilan? Itu yang masalah," kata Ahok.
Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi bersama Ketua dan Anggota Fraksi Partai Hanura, Mohammad Sangaji dan Very Younevil, menemukan adanya penyalahgunaan lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terletak di Jalan Kayu Putih Raya. Penyalahgunaan lahan tersebut terungkap setelah ketiganya melakukan inspeksi mendadak ke kawasan Pulo Mas pada Senin (13/7).
Menurut keterangan Very, lahan seluas 2,1 hektare di Jalan Kayu Putih Raya tersebut seharusnya disewakan dan digunakan sebagai lokasi pembangunan gedung pusat kebudayaan Korea Selatan. Pembangunan gedung kebudayaan rencananya akan dilakukan oleh PT Korea World Center (KWC) bekerjasama dengan PT Jakarta Propertindo (JakPro). (meg)