Istiqlal, Lambang Toleransi Sejak Dirancang

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Jumat, 17/07/2015 07:25 WIB
Masjid Istiqlal menjadi lambang toleransi beragama di Indonesia sejak dirancang dan kemudian berdiri megah menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal dibangun sebagai lambang kemerdekaan Indonesia dan menjadi simbol toleransi. (Detik/Suhar Bimar)
Jakarta, CNN Indonesia --
Siapa sangka masjid yang sempat tertunda pembangunannya akibat konflik politik ini dapat berdiri megah dan menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara.

Di balik pembangunan masjid megah yang dimulai dari tahun 1961 dan baru selesai pada tahun 1978 ini terselip sejarah menarik.

Istiqlal, nama yang memiliki arti merdeka, dibangun sebagai manifestasi rasa syukur bangsa Indonesia atas kemerdekaan yang telah diraih.


"Bung Karno memilih lokasi ini karena dulunya, lokasi ini bernama Wilhema Park yang selayaknya sebagai simbol penjajahan. Lalu dibangun Masjid sebagai simbol kemerdekaan," ujar Abu Hurairah, Humas dan Protokol masjid istiqlal, kepada CNN Indonesia, kamis (16/7).

Selain sebagai simbol kemerdekaan yang sesuai dengan namanya. Masjid istiqlal dikenal sebagai simbol toleransi beragama.

Masjid ini berdiri megah berseberangan dengan Gereja Katedral dan dekat dengan Gereja Imanuel, membuat Istiqlal sering saling bantu-membantu dengan para tetangganya itu ketika ada kegiatan keagamaan.

"Sudah berlangsung sangat lama, bahkan saat didirikan sampai sekarang. Jika gereja ada kegiatan, maka posko atau lahan parkirnya di Istiqlal, begitu juga sebaliknya," kata Abu.

Nuansa toleransi umat beragama juga semakin kental karena arsitek masjid Istiqlal yaitu Frederich Silaban, adalah penganut agama Kristen Protestan dan tidak ada yang mempermasalahkannya hingga saat ini.

Kemegahan masjid yang dapat menampung hingga 200.000 jamaah ini juga terasa geliatnya setiap menjelang salat Idul Fitri.

Sejak zaman Soeharto, para presiden dan pejabat negara selalu hadir untuk salat Ied di Masjid Istiqlal dan biasanya sekitar 150 ribu jamaah memadati masjid yang menjadi salah satu ikon Indonesia tersebut.

Persiapan yang dilakukan oleh pihak masjid untuk salat Idul Fitri seperti adalah menyediakan tempat khusus bagi para pejabat negara beserta pendamping mereka di deretan saf terdepan.

Abu mengatakan terdapat pasukan "tirai" yang terdiri dari unsur Pasukan Pengamanan Presiden, Paspampres, dan instansi terkait yang berada di belakang pejabat penting negara guna melindungi saf-saf terdepan.

"Sudah menjadi prosedur dan pihak masjid berkoordinasi serta menyerahkan pengamanan kepada Paspampres," tambah Abu. Wajar jika nantinya ada pengamanan yang ketat karena sudah menjadi standar pengamanan yang dilakukan oleh Paspampres, ujarnya.

Untuk tahun ini hanya Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah anggota Kabinet Kerja yang akan melaksanakan salat Ied di Masjid Istiqlal karena Presiden Joko Widodo merayakan Hari Raya Idul Fitri di Aceh Nangroe Darussalam.

Ketatnya pengamanan bagi para pejabat tinggi ini tidak akan mengurangi kekhusyukan beribadah, apalagi mengurangi makna Masjid Istiqlal sebagai simbol toleransi umat beragama di Indonesia.
(yns)