Sebabnya, menurut Yotje, hingga kini anggota Polri belum ada yang mengakui melepaskan tembakan. Kepolisian pun masih menyelidiki apakah peluru yang menerjang para perusuh dalam insiden ini berasal dari institusinya atau dari TNI.
"Anda mungkin bisa mengira ini hal mudah, tapi ketika Anda melakoni, Anda akan merasakan kesulitan untuk membuktikan secara hukum," kata Yotje kepada media melalui sambungan telepon, Senin (20/7). "Maling juga begitu, sudah tertangkap tangan pun kadang dia tidak berkata jujur akan mengakui perbuatanya bahwa dia sudah mencuri.” (Baca juga: Dukungan Petisi Usut Tuntas Kasus Tolikara Mengalir Deras)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam upaya pengamanan insiden, petugas menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Lima saksi yang mendengar suara tembakan telah diperiksa untuk mendalami kejadian tersebut. (Baca juga: Polri Telusuri Dugaan Aktor Intelektual Insiden Tolikara)
Alasannya, lokasi Salat Id hanya berjarak sekitar 250 meter dari tempat dilangsungkannya sebuah seminar internasional yang dihadiri oleh pemuda dari Nias, Sumatera Utara, Papua Barat, Kalimantan (Dayak), Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan diperkirakan mencapai dua ribu orang pemuda GIDI.
Menurut Presiden Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Dorman Wandikmbo, pihaknya telah mengingatkan umat Islam di Tolikara untuk mematuhi surat pemberitahuan yang telah dilayangkan gereja dua minggu sebelum kegiatan dilangsungkan. (Baca fokus: Damai Terusik di (sip)