Pada Selasa (21/7), Polda Metro Jaya menjadi tuan rumah kegiatan Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida). Agenda Muspida kali ini membahas tentang berbagai isu keamanan yang ada di DKI Jakarta, termasuk membahas soal efek domino dari insiden di Tolikara. (Lihat Juga: FOKUS Damai Terusik di Tolikara)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito mengatakan, ada sejumlah kesepakatan yang dihasilkan dalam muspida kali ini, antara lain semua pihak yang hadir sepakat dan mendukung pihak kepolisian mengawal dan mengusut kasus keributan yang berujung pada rusaknya sejumlah bangunan di lokasi. (Lihat Juga: Pelaku Penyerangan di Tolikara Terancam Tujuh Tahun Bui)
Selanjutnya, kesepakatan lain yang dihasilkan, yaitu meminta semua pihak untuk tidak mengeluarkan pernyataan negatif dan mengambil tindakan yang merugikan masyarakat, serta melakukan rekonstruksi pasca kerusakan yang terjadi akibat peristiwa tersebut.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan, Pangkodam Jaya juga telah memberi penjelasan tentang keBhinekaan. Tujuannya agar tidak ada pemahaman berbeda tentang kesatuan dan persatuan dalam berbangsa.
"Selain itu, Pangdam juga menjelaskan tentang kemungkinan adanya pihak-pihak lain yang akan mengambil keuntungan dari situasi itu," ujarnya.
Sebelumnya, Markas Besar Polri menduga ada informasi yang tidak tuntas disampaikan sehingga kepolisian setempat gagal mengantisipasi insiden penyerangan dan pembakaran bangunan di Tolikara, Papua, Idul Fitri lalu (17/7).
Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Agus Rianto kepada CNN Indonesia, Senin (20/7). Dia menjelaskan, putusnya rantai komunikasi bisa saja terjadi di lapangan sehingga antisipasi tidak maksimal.
"Kadang kalau kami sudah berbicara dengan pimpinan atau orang yang berkompeten kami anggap sudah selesai. Mungkin di sini informasinya belum tuntas," kata Agus. (utd)