“Di sana sudah tenang, sudah berdamai,” kata Tedjo usai mengikuti upacara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-56 di Gedung Kejaksaan Agung, Rabu (22/7), yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi dan dihadiri para pejabat tinggi pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tedjo juga menyatakan pemerintah terus berupaya agar kerusuhan Tolikara tidak meluas dan merembet ke mana-mana. Menurutnya, TNI, Polri, dan Badan Intelijen Negara telah melakukan antisipasi.
Surat edaran tersebut ditandatangani oleh Presiden GIDI Dorman Wandikmbo pada 11 Juli, dan berisi imbauan kepada muslim Tolikara untuk tak menggunakan pengeras suara dalam beribadah. (Baca: Mendagri Minta Bupati Tolikara Periksa soal Perda Agama)
“Mengingat akan diselenggarakannya Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Injili Pemuda Tingkat Pusat bertaraf nasional/internasional pada tanggal 15-20 Juli 2015, maka diminta kepada pihak muslim agar tidak melakukan kegiatan peribadatan di lapangan terbuka, tidak menggunakan pengeras suara, dan ibadahnya cukup dilakukan di dalam musala atau ruangan tertutup,” demikian kutipan isi surat edaran tersebut.
Untuk diketahui, lokasi salat Id di Tolikara berjarak sekitar 250 meter dari tempat dilangsungkannya Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani Injili Pemuda Tingkat Pusat yang dihadiri sekitar 2.000 orang pemuda GIDI dari berbagai daerah.
Namun, ujar Tedjo, Presiden GIDI telah membantah membuat surat edaran tersebut. Tedjo meminta semua pihak menyerahkan penegakan hukum kepada Kepolisian yang dalam waktu dekat akan memeriksa pembuat surat edaran dan penggerak kerusuhan.
Sebelumnya saat Hari Raya Idul Fitri, terjadi penyerangan terhadap jemaah salat Id di Tolikara. Penyerangan membuat jemaah salat Id bubar, sementara para penyerang mereka lantas membakar beberapa bangunan rumah, kios, dan musala.
Untuk mengamankan situasi, polisi menembak tiga orang pelaku penyerangan yang tidak mengindahkan peringatan petugas. Sejumlah saksi telah diperiksa terkait kebakaran dan penembakan tersebut. (agk)