Wagub Djarot: Surabaya Jauh Lebih Bagus Dibanding Jakarta

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Jumat, 24/07/2015 16:34 WIB
Wagub Djarot: Surabaya Jauh Lebih Bagus Dibanding Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat saat memimpin kegiatan pemusnahan minuman keras di Silang Monas, Jakarta, Selasa, 7 Juli 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengaku malu saat melihat kondisi Jakarta setelah pulang dari perjalanan mudiknya. Menurutnya, kondisi Jakarta tidak lebih baik dari Solo maupun Surabaya.

Dalam perjalanan mudiknya, Djarot memang tak hanya berkunjung ke kampung halamannya di Blitar. Tapi ia juga sempat berkunjung ke kota Solo dan Surabaya.

"Solo tamannya bagus. Trotoarnya bagus. Hijau juga. Surabaya lebih bagus lagi. Kotanya hijau. Trotoarnya bukan hanya di jalan protokol yang bagus tapi di pinggir jalan juga bagus. Taman kotanya bagus," kata Djarot saat mengunjungi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jumat (24/7).


Dari ceritanya, Djarot sangat terkesan dengan kondisi Kota Surabaya. Ia sangat mengagumi ibu kota Jawa Timur itu yang hampir semua wilayahnya ditanami tumbuhan. Suasana Kota Surabaya secara keseluruhan terlihat asri.

"Hampir tidak ada tanah terbuka di sana. Semuanya ditanami. Hijau sekali," ujarnya.

Ia juga bercerita, penerangan di sana pun sangat bagus. Dan CCTV pun juga terpasang dengan baik.

Namun, ketika Djarot kembali ke Jakarta ia merasa suasananya sangat timpang. Ia merasa ada perbedaan yang sangat jauh sekali antara Surabaya dengan ibu kota negata, Jakarta.

"Surabaya sudah tidak kelas adipura, tapi sudah kelas internasional. Jakarta bagaimana? Begitu ke sini lagi, saya lihat Jakarta jauh sekali kondisinya dengan Surabaya," kata mantan Wali Kota Blitar itu.

"Trotoar banyak yang jebol. Banyak lubang. Orang jalan kaki tidak nyaman. Taman kota juga seperti itu. Tidak disesuaikan jenis pohon dan tanamannya. Banyak lagi pot besar di pinggir jalan yang kosong yang tidak ditanami," ujar Djarot.

Bahkan tak hanya itu. Djarot juga mengeluhkan kondisi kolong jembatan dan lahan di samping rel kereta yang masih kosong dan tidak ditanami apapun.

Belum lagi kondisi cat-cat di fasilitas umum, trotoar, pagar, sampai pembatas jalan yang sudah kusam dan mengelupas. Tulisan-tulisan vandalisme yang sering ditemukan di jembatan maupun tembok-tembok di jalanan ibu kota, juga membuat Djarot kesal melihatnya.

"Itu kita diam saja. Padahal ini ibu kota negara," katanya. "Saya sampai diskusi panjang sama Pak Gubernur. Kita malu ini sama Surabaya."

Untuk itu ia mengusulkan agar para Wali Kota beserta Suku Dinas terkait  bisa belajar langsung dari Surabaya unik menata ibu kota Jakarta.

"Pak Wali Kota dan Sudin sepertinya perlu belajar ke sana. Kita kirim ke sana nanti," ujar Djarot.

Djarot merasa heran mengapa kondisi Jakarta tidak lebih baik dari Surabaya. Padahal dilihat dari anggaran, Jakarta tentu punya anggaran yang besar.

"Duit ada. SDM ada. Saya tidak tahu niatnya ada tidak untuk kerja. Yang perlu ditingkatkan adalah inisiatif dan inovasi dari kalian dan tidak saling tunggu," tutur dia.

Djarot pun memberikan tenggat waktu pada setiap wilayah untuk memperbaiki penataan kotanya sampai 15 Agustus mendatang. Sebab ia ingin pada 17 Agustus nanti, Jakarta punya wajah yang lebih baru. (obs/obs)