"Dalam agama manapun, Islam ataupun non Islam, ada yang namanya perbedaan dan penyimpangan. Kalau penyimpangan, kami enggak bisa toleransi. Itu tetap kafir," kata Muchsin kepada CNN Indonesia, Sabtu (8/8). (Lihat Juga: Muhammadiyah Imbau Umat Muslim Tak Obral Ucapan 'Kafir')
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Muchsin mencontohkan dalam Muhammadiyah, misalnya, terdapat penggunaan azan salat satu kali. Sementara, NU menggunakan azan dua kali. "Secara prinsip tidak masalah. Yang boleh dikafirkan hanya bila keluar dari tindakan prinsip Islam," kata dia.
"Namun, itu ajarannya yang perlu kami luruskan. Ada upaya dakwah dan dialog terbuka. Yang jadi masalah kalau aparat hukum cuek membiarkan kelompok yang melanggar hukum. Makanya terjadi kisruh," kata Muchsin.
Sementara itu, mengenai konflik berkepanjangan Sunni dan Syiah di Indonesia, Muchsin menjelaskan pihaknya melakukan kajian mendalam tentang itu. Menurutnya, aliran Syiah sendiri terdiri atas beberapa kelompok. Namun, pihaknya menoleransi Syiah moderat.
"Mereka tidak jauh berbeda dengan As Sunnah. Itu tidak ada masalah. Mereka bukan kafir," kata Muchsin.
Sebelumnya, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan lembaganya memutuskan dalam Muktamar ke-47 untuk menjauhi kecenderungan takfiri atau mengkafirkan pihak lain. Muhammadiyah ingin membangun budaya toleransi yang menjauhkan kebencian.
"Hal ini menjadi perhatian dari Muhammadiyah bahwa dalam kehidupan umat Muslim di Indonesia ada kecenderungan mengkafirkan pihak lain. Tentu ini tidak positif dan membawa terjadinya konflik internal yang tajam," kata Din, yang juga Presiden Moderator Asian Conference of Religions for Peace (ACRP), kepada CNN Indonesia, Sabtu (8/8). (utd)