Pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi menyebut, sebagai seorang menteri seharusnya Rizal dapat membatasi diri untuk memberikan pendapat. Reaksi Rizal tentang rencana pembelian pesawat ataupun proyek listrik, dianggap tidak pantas diucapkan.
"Dalam situasi normal, harusnya bisa membatasi diri dalam kewenangan. Artinya, sebagai menteri kemaritiman, tidak perlu bicara tentang BUMN," ujar Dodi kepada CNN Indonesia, Rabu (19/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Permainan politik itu bisa terjadi di luar ataupun di dalam kabinet," ujar Dodi. "Tabrakan (beda pendapat) di dalam ya boleh saja. Tapi itu pun kalau belum ada keputusan. Kalau sudah ada keputusan seharusnya sependapat, mestinya suara ya satu."
Reaksi Rizal soal ketidaksetujuan dia dengan rencana pembelian pesawat Airbus A 350 XWB oleh Garuda Indoensia menjadi kontroversi setelah dia menyatakan bakal mengusulkan pembatalan kesepakatan tersebut. Begitupun dengan tanggapan atas proyek pembangkit listrik 35ribu megawatt yang digadang Presiden Jokowi.
Rizal menilai program listrik terlalu ambisius. Apalagi masih ada pekerjaan rumah pembangunan proyek pembangkit listrik ribuan megawatt dari era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sempat mengatakan akan tetap akan melaksanakan proyek tersebut sesuai dengan rencana awal pemerintah.
Menurut Waki Presiden Jusuf Kalla, perkataan Rizal yang menyebut proyek listrik terlalu ambisius dianggap telah mengurangi wibawa presiden. Yang meresmikan semuanya adalah Jokowi dan bukan dirinya. "Ini artinya memandang kurang pantas pada Pak Jokowi, malah mengurangi kewibawaan Presiden," kata Kalla. (meg)