"Presiden juga waktu itu sudah menelepon Pak Rizal Ramli, waktu itu permasalahan soal pengadaan pesawat," kata Teten saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8).
Teten mengatakan, kala itu Jokowi meminta para menteri kabinet kerja untuk menyampaikan segala kritikan dan koreksi terhadap kebijakan pemerintah secara internal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Teten, kegaduhan antarpersonil dalam kabinet ini berpotensi mengganggu usaha intensif pemerintah dalam menggaet para investor ke tanah air.
"Minggu lalu saya ketemu Presiden Jokowi. Saya bilang, mas Saya minta tolong layanan tolong diperhatikan. Saya tidak ingin Garuda bangkrut lagi. Karena sebulan yang lalu beli pesawat dengan pinjaman 44,5 miliar dollar AS dari China Aviation Bank untuk beli pesawat airbus 350, 30 unit. Itu hanya cocok Jakarta-Amerika dan Jakarta-Eropa," ujar Rizal Ramli di Kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (13/8).
Alasannya, maskapai di kawasan ASEAN yang memiliki rute internasional ke Amerika Serikat dan Eropa yaitu Singapore Airlines memiliki kinerja keuangan yang kurang baik.
Demikian pula dengan Garuda Indonesia. Rute internasional Garuda ke Eropa hanya memiliki tingkat keterisian penumpang sebesar 30 persen.
Karenanya, di mata Rizal, dibandingkan mengembangkan bisnis penerbangan ke internasional, Garuda berpotensi memiliki keuntungan dengan membeli pesawat Airbus 320 dan memilih fokus menguasai bisnis penerbangan domestik dan regional Asia. (gir/gir)