"Saya lihat DPR ini ngawur. Legislasi juga masih memble," ujar Tjipta di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (22/8).
Tjipta menilai rakyat belum melihat kinerja yang baik dari 560 anggota dewan. Ia meyakini apabila dilakukan survei, masyarakat pasti kecewa dengan kerja para anggota dewan dalam sepuluh bulan terakhir. "Jangan ditambah dengan bikin gedung lagi," tuturnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Termasuk melakukan pembatasan pembangunan gedung-gedung kantor, rumah dinas, baik di tingkat pusat maupun di daerah.
Sementara itu, Presiden Jokowi hingga saat ini belum mengeluarkan sikap resmi akan menolak atau menerima rencana ini. Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan Presiden Jokowi meminya DPR untuk mengkaji kembali rencana itu dan dilaporkan segera dalam waktu dekat.
Diketahui, tahun ini DPR kembali berkeras untuk menggolkan rencana penataan kompleks parlemen yang diperkirakan akan menelan biaya RP 1,6 triliun. Penataan kompleks pun dilakukan dalam tujuh tahap. Tahap pertama dimulai dengan membangun alun-alun demokrasi yang berbentuk plaza reformasi bagi publik. Tempat ini akan menjadi tempat unjuk rasa dan penyampaian aspirasi publik terbesar di Indonesia
Lihat juga:Tarik Ulur Pembangunan Gedung Baru DPR |
Tahap ketiga adalah membangun akses publik ke gedung DPR RI untuk mempermudah tamu dan publik agar bisa mengunjungi fasilitas yang ada di perpustakaan, museum, dan ruang sidang di kompleks parlemen tersebut.
Selanjutnya, tahap keempat, adalah pusat pengunjung. Pusat pengunjung akan dikelola sebagai aktivitas menerima pengunjung harian untuk menimba ilmu, berdiskusi, dan berwisata. Tahap kelima adalah membangun ruangan pusat pengkajian legislasi dan revisi undang-Undang.
Tahap keenam pembangunan ruang anggota dan tenaga dengan standar yang berlaku untuk semua anggota DPR dan staf pendukung. Saat ini, ujar Fahri, pembangunan sangat tidak terstruktur dan tiap anggota punya kreativitas ruangan masing-masing.
Tahap terakhir adalah integrasi kawasan untuk mengintegrasikan kawasan bagi anggota dan akan menjadi ikon baru dan menjadi tempat kunjungan warga negara Indonesia dan warga negara asing.
Fokus: Kontroversi Megaproyek DPR RI (pit)