Motor di Jakarta Bertambah 12 Juta Setahun

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Jumat, 28/08/2015 11:41 WIB
Motor di Jakarta Bertambah 12 Juta Setahun Pengendara motor beristirahat menunggu kemacetan terurai di Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyebab utama tingginya kemacetan dan penggunaan kendaraan pribadi Jakarta diyakini pengamat angkutan umum Azas Tigor Nainggolan karena buruknya fasilitas alat transportasi massal yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Belum layak. Dampaknya banyak orang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum," kata Tigor kepada CNN Indonesia, Kamis (27/8).

Tigor pun meminta Pemprov DKI untuk rutin meremajakan angkutan umum agar masyarakat tertarik dan mau beralih dari kendaraan pribadi.


Menurut Tigor, pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 11 persen, membuat Jakarta menjadi kota termacet di dunia. "Paling tinggi, pertambahan sepeda motor kira-kira mencapai 12 juta per tahun," ujarnya.

Meski demikian, buruknya kondisi kendaraan umum di Jakarta memberi keuntungan bagi pihak-pihak tertentu, misalnya pengelola ojek berbasis aplikasi telepon pintar.

Sebagai salah satu pelaku usaha angkutan baru, penyedia transportasi ojek berbasis ponsel ini dianggap dapat memberikan solusi mempersingkat waktu meski penggunanya harus mengeluarkan biaya lebih.

"Ojek online itu sekarang diserbu orang. Masyarakat berpikir praktis daripada harus buang waktu naik angkutan umum seperti bus," ujar Azas.

Kota Jakarta dinobatkan sebagai kota termacet di dunia berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Castrol Magnetec. Namun jauh sebelumnya, Jakarta yang kota metropolitan sudah dibayangi kecemasan menjadi sebuah kota gagal dalam hal dilanda kemacetan luar biasa.

Prediksi Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2000 bahwa lalu lintas Jakarta pada 2014 akan macet total, mulai jadi kenyataan. Rasio jalan dengan luas wilayah dan jumlah kendaraan di Jakarta tak berbanding lurus.

Idealnya, menurut pengamat masalah perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, perbandingan panjang jalan dengan wilayah yaitu di atas 10 persen. Namun pada kenyataannya di Jakarta hanya 7 persen.

“Panjang jalannya segitu-gitu saja, sementara jumlah kendaraan setiap saat bertambah, dan luas wilayahnya juga tetap segitu,” ujar Yayat kepada CNN Indonesia.

Dewan Transportasi Kota Jakarta mencatat, dalam sehari terdapat penambahan 500 hingga 700 unit kendaraan baru di ibu kota. Sementara kendaraan yang melintasi jalanan Jakarta bisa mencapai angka 7 juta.

Ironis karena di saat warga Jakarta dan penduduk daerah-daerah penyangganya mengandalkan kendaraan pribadi, kota-kota besar lain di dunia justru meninggalkan pola transportasi berbasis jalan raya. Jepang dan China misalnya mengandalkan alat transportasi massal berbasis rel. Subway lebih diminati ketimbang jalanan, membuat kemacetan tinggal kenangan di kota-kota besar berbagai negara. (Baca: Menakar Mimpi Jakarta Wujudkan Transportasi Berbasis Rel) (sur/agk)