Gelombang pemutusan hubungan kerja terhadap (PHK) terhadap buruh di Indonesia membuat wakil rakyat mempertanyakan kinerja Menteri Hanif. (Lihat Juga: Puluhan Ribu Buruh Akan Demo di Jakarta Besok)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dede menegaskan pemerintah seharusnya tidak menampik kondisi perekonomian Indonesia yang saat ini dirundung krisis. Adalah naif, kata dia, jika kemudian pemerintah tetap berkukuh menyatakan perekonomian Indonesia dalam kondisi baik-baik saja.
Bukan hanya soal PHK, belakangan dunia ketenagakerjaan dirundung sengkarut yang berkaitan dominasi tenaga kerja asing dan pencabutan bahasa asing.
"Jadi mestinya menteri harus sigap berada di tengah kondisi saat ini. Kami menyayangkan hal itu," kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan hingga Agustus 2015 sudah terdapat sebanyak 26 ribu pekerja Indonesia yang mengalami pemutusan hubungan kerja.
Meski demikian, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menegaskan angka tersebut masih jauh sedikit dibandingkan dengan jumlah potensi PHK, yang mencapai 30 ribu pekerja.
Menengarai persoalan tersebut, Dede memastikan audiensi dengan pemerintah akan segera dilaksanakan.
"Tapi besok sudah dijadwalkan dan kami akan tanyakan antisipasi langkah yang akan dilakukan kementerian tenaga kerja dalam menyikapi hal-hal tersebut, termasuk gelombang PHK," kata Dede.
Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan akan ada puluhan ribu buruh yang terlibat dalam aksi demo besok Selasa (1/9) di DKI Jakarta.
Unjuk rasa esok merupakan aksi gabungan dari beberapa elemen buruh dalam rangka menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah.
"Hingga saat ini kami perkirakan akan ada sekitar 30 ribu buruh yang akan terlibat dalam aksi 1 September besok," ujar Said kepada CNN Indonesia, Senin (31/8).
Said mengatakan, elemen buruh yang terlibat dalam aksi antara lain KSPI, KSPSI AGN, KSBSI, dan beberapa elemen buruh di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Mereka menuntut beberapa hal diantaranya, melemahnya harga jual rupiah terhadap dolar Amerika, kenaikan harga bahan bakar minyak, dan masuknya tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia. (utd)