“Almarhum membela HAM segala kelompok masyarakat, dari mereka yang berideologi komunis sampai Islam garis keras seperti Abu Bakar Ba’asyir,” ujar Arsul kepada CNN Indonesia, Kamis (23/9), sesaat setelah mendapat kabar wafatnya Adnan Buyung.
Arsul menuturkan, Adnan Buyung membela dari yang berpangkat jenderal seperti Wiranto sampai dengan pedagang asongan di Terminal Pulogadung dan Kalideres yang dikejar-kejar Sudomo pada pertengahan 1980-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bang Buyung adalah tokoh yang luar biasa. Almarhum adalah pribadi yang humble dan ramah kepada semua orang, tidak memberikan perlakuan yang berbeda ketika disapa tokoh penting atau orang biasa,” kata politikus PPP ini.
Kegigihan sosok Adnan Buyung dalam menegakkan hukum diamini oleh Wakil Ketua Umum PBNU Slamet Effendy Yusuf. “Adnan Buyung adalah orang yang sepanjang hidupnya dijalani dengan semangat perlawanan sejak zaman Orde Lama, Orde Baru, hingga hari ini,” kata Slamet Effendy kepada CNN Indonesia.
Slamet Effendy mengatakan jika Adnan Buyung melihat hal yang tidak benar maka tak mungkin dia membiarkannya. Almarhum adalah contoh orang yang tidak kenal kompromi jika melihat ketidakbenaran dan ketidakadilan.
“Dan untuk itu almarhum rela berkorban termasuk ketika haknya sebagai pengacara dicabut oleh rezim yang berkuasa saat itu. Yang jelas dunia hukum dan Indonesia kehilangan putra terbaiknya,” tuturnya. (obs)