"Di mana saja, kalau orang enggak ada aktifitas, diberi stimulan kecil bisa terprovokasi. Kalau punya aktifitas bisa jadi bagian aktualisasi potensi yang mereka miliki. Itu yang saya lihat di banyak tempat termasuk Tolikara," kata Khofifah kepada CNN Indonesia beberapa waktu lalu.
"Saya lihat sepintas. Wah, ini harus diberi pekerjaan mereka. Pekerjaan apa," kata Khofifah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sampaikan ke istri-istri camat dan kepala distrik,'apakah nanti saya kirim orang atau ibu-ibu yang ke Jakarta'," kata Khofifah.
"Saya juga cukup lama ketemu beberapa ustad terutama ustad Ali Mochtar yang selama ini membantu komunikasikan komunitas muslim dan GIDI serta pemerintah, termasuk pusat. Ia sering bangun komunikasi itu," kata Khofifah.
Khofifah juga mengatakan untuk menekan potensi konflik di Indonesia Timur, terutama Papua, pemerintah butuh membangun infrastruktur terutama konektivitas. Hal itu penting mengingat potensi alam, yakni dari sektor pertanian, sangat mengandalkan peningkatan infrastruktur.
"Kalau jalan antar pegunungan itu bisa dibuka, connectivity potensi alam, dan peningkatan Sumber Daya Alam (SDA) mereka akan mengalami percepatan," ujar Khofifah.
Sebelumnya, Khofifah Indar Parawansa bersama sejumlah petinggi negara seperti Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Kemanan Yoedhi Swastono dan Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Hinsa Siburian melakukan pemantauan jalannya salat Idul Adha di Kabupaten Tolikara, Papua.
Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw mengatakan kondisi Idul Adha di Tolikara berlangsung aman dan lancar. Ia mengatakan suasana tetap aman dan kondusif mulai dari Salat Id di Musala Khairul Ummah hingga pemotongan kurban. (utd)