Dio sempat mengalami trauma selama empat hari dengan tidak masuk sekolah. Siswa SDN Selok Awar-Awar 01 Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu sempat menyaksikan ayahnya dibunuh.
Dengan mata kepalanya, Dio melihat ayahnya dipukuli oleh orang-orang kepala desanya karena ayahnya menolak keras kegiatan penambangan pasir ilegal di kampungnya. (Baca: Keluarga Salim Kancil: Hukum Mati Pelaku Pembunuhan Sadis)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menjamin Dio bisa melanjutkan pendidikannya sampai perguruan tinggi tanpa ada gangguan kejiwaan,” tutur Abdul.
Abdul menambahkan Dio termasuk anak yang penurut dan agak pendiam di sekolah. Sehari-hari ia termasuk anak yang rajin di kelasnya. Dalam hal prestasi belajar Dio juga tidak tertinggal dengan teman-teman sekelasnya. “Prestasinya di tengah,” ucap Abdul.
Menurut Abdul, Dio bercita-cita akan menjadi polisi untuk menegakkan keadilan sehingga rakyat kecil tidak tertindas.
Dalam kasus pembunuhan Salim Kancil, Polda Jawa Timur yang langsung turun tangan menangani perkara ini telah menetapkan lebih dari 20 orang sebagai tersangka. Adapun aktor intelektual pembunuhan dan penganiayaan Haryono merupakan kelapa desa Selok Awar-awar. Selain warga sipil, Polda juga memeriksa Kapolsek Pasirian dan Kapolres Lumajang. (Baca: Pembunuhan Salim Kancil, Kapolsek dan Kapolres Ikut Diperiksa) (obs/obs)