"Darurat kesehatan, iya. Ini tidak bisa dibiarkan. Dari data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang telah kami terima, bagi kami sekarang telah terjadi darurat kesehatan. Kami minta gubernur tanggap darurat supaya pemerintah pusat bisa bantu," kata Nila saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (22/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus bayi, Nila mengatakan ketika ISPU telah berada di atas angka 50, sangat dilarang keras membawa bayi ke luar rumah. Nila mengatakan bayi sebaiknya dievakuasi ke tempat penampungan yang dibuat oleh pemerintah daerah secara cepat.
Untuk mengatasi kondisi darurat kesehatan ini, Nila mengatakan telah membagikan 33,8 ton alat medis, seperti obat, masker, oksigen, dan sumber daya kesehatan lainnya.
Semua itu, kata Nila, menggunakan dana operasional Kemenkes. Selain itu, sejumlah alat kesehatan diambil dari cadangan Kemenkes.
"Kami akan distribusikan kembali 125 ribu masker per kabupaten/kota, di mana ada 97 kabupaten/kota yang akan mendapatkannya. Makanan juga akan ditambah sebanyak 11 ton," katanya.
Selain itu, Nila mengatakan akan membagikan penjernih air dan penjernih udara ke masing-masing daerah. Begitu pula dengan oksigen.
Per kemarin, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah titik api di seluruh Indonesia meningkat drastis menjadi 3.226 titik, dengan sebaran meluas hingga Papua. (obs)