Kiat Khusus BMKG Masuki Musim Pancaroba

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 07:32 WIB
Masyarakat diminta menghindari struktur benda-benda yang mudah tumbang oleh angin dan memangkas ranting atau daun rimbun di pohon yang rapuh. Petugas memantau satelit cuaca di ruang kendali BMKG, Jakarta, Rabu, 11 November 2015. BMKG memprediksi periode peralihan musim kemarau ke musim hujan akan berlangsung hingga akhir tahun 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya menyampaikan, perkembangan atmosfer belakangan ini telah meningkatkan pasokan uap air di wilayah Indonesia. Hal itu menimbulkan potensi hujan di beberapa wilayah di Indonesia dengan intensitas yang beragam.

"Ini merupakan indikasi terjadinya peralihan musim kemarau ke musim hujan," kata Andi di kantornya, Jalan Angkasa 1 Kemayoran, Jakarta, kemarin.

Pola angin pada Oktober lalu rata-rata masih didominasi dari arah timur yang pada umumnya normal. Sementara daerah konvergensi yang berpotensi membentuk pertumbuhan awan hujan masih terkonsentrasi di utara khatulistiwa. Secara bertahap pola ini akan bergerak ke arah selatan khatulistiwa hingga Februari 2016.


Andi mengatakan, kondisi peralihan kemarau ke hujan atau pancaroba ini dapat berlangsung hingga akhir November 2015. Sementara musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan dimulai pada akhir November hingga awal Desember.

Andi menjelaskan beberapa karakteristik pancaroba di antara yaitu cuaca panas terik dari pagi hingga menjelang tengah hari. Perubahan atau kenaikan suhu udara bisa mencapai lebih dari lima derajat Celsius.

Selain itu, akibat tingginya kelembaban udara mengakibatkan suhu udara terasa gerah. Perubahan cuaca yang signifikan juga tetjadi antara siang menjelang sore atau malam.

Karakteristik lainnya yaitu hembusan angin terjadi cukup kuat, dan hujan lebat yang datang tiba-tiba dengan durasi pendek antara 30 menit sampai satu jam. Lokasi kejadian hujan juga bersifat lokal atau sporadis.

Pada saat pancaroba ini, lanjut Andi, kondisi badan menjadi mudah lelah karena ketahanan tubuh menurun. Gejala dehidrasi juga mudah terjadi, imbasnya bisa mudah terkena penyakit seperti demam dan flu akibat perubahan kondisi cuaca mendadak.

Andi menyampaikan beberapa kiat menghadapi pancaroba. Masyarakat diminta menghindari struktur benda-benda yang mudah tumbang oleh angin dan memangkas ranting atau daun rimbun di pohon yang rapuh.

Selain itu, bangunan dan ikatan atap rumah yang tidak permanen seperti asbes dan seng perlu diperkuat. Begitu pula dengan penguatan papan reklame permanen.

Dia juga mengimbau agar masyarakat mewaspadai tanah lereng yang mudah longsor, mencatat nomor telepon penting yang dapat dihubungi, serta mengenali peta daerah rawan angin puting beliung.

Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda sebelum kejadian puting beliung, seperti udara terasa panas dan gerah, terjadi pertumbuhan awan yang cepat, awan tiba-tiba gelap dan angin dingin mulai berhembus makin kencang, munculnya kilat dan petir.

"Kenali lingkungan tempat anda bekerja atau tinggal untuk memudahkan perlindungan yang aman," ujar Andi.

Deputi Klimatologi BMKG Nurhayati mengatakan memasuki pancaroba kali ini, pihaknya memprediksi sifat hujan masih dalam batas normal (59,9 persen) hingga di bawah normal (30 persen). "Tapi dominan normal," katanya.

Bawah normal yang dimaksud yaitu intensitas hujan masih di bawah rata-rata dari hujan di lokasi tersebut. Misalnya satu lokasi memiliki seratus milimeter per bulan, intensitas hujan masih di bawah angka itu. "Kami punya catatan tiap lokasi selama 30 tahun," katanya. (pit/pit)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK