Setara Umumkan Bogor Sebagai Kota Intoleran

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Senin, 16/11/2015 17:45 WIB
Setara Umumkan Bogor Sebagai Kota Intoleran Sejumlah jemaah gereja Yasmin Bogor dan HKBP Filadelpia mengikuti ibadah Natal di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 25 Desember 2014. Ibadah Natal tersebut dilaksanakan di jalanan karena dua gereja jemaat tersebut masih tersangkut sengketa perijinan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Melalui sebuah riset yang dilakukan dalam rangka peringatan Hari Toleransi sedunia yang jatuh pada hari ini, lembaga SETARA Institute mengumumkan bahwa kota Bogor sebagai kota yang paling intoleran di antara puluhan kota yang masuk ke dalam riset.

Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos menyatakan peristiwa intoleran di kota hujan itu tidak dapat tertangani dengan baik oleh pemerintah daerah setempat.

Hal ini dicontohkannya dengan peristiwa yang selalu terulang mengenai GKI Yasmin, dan pemfasilitasan kegiatan pertemuan anti Syiah yang akan dilakukan di Balai Kota Bogor.


"Bagaimana mungkin pemerintah memfasilitasi kelompok-kelompok intoleransi," ujar Bonar, Senin (16/11).

Bonar mengatakan, riset ini dapat menjadi peringatan bagi pemerintah daerah untuk melindungi masyarakatnya, termasuk kelompok minoritas.

"Saran kami, sebaiknya Menteri Dalam Negeri memberikan perhatian terhadap temuan ini, dan mengambil langkah koordinasi untuk langkah serius soal kebebasan beragama," katanya.

Berbanding terbalik dengan Bogor, kota Pematang Siantar mendapat predikat sebagai kota toleran di Indonesia.

Riset ini berlangsung dari tanggal 3 Agustus hingga 13 November 2015, yang dilakukan dengan survei dan menghasilkan indeks terhadap 94 kota di Indonesia.

Khusus Jakarta, kota-kota administrasi digabungkan menjadi satu, dalam hal mempromosikan dan mempraktikan toleransi.

Peneliti SETARA Institut, Aminudin Syarief mengungkapkan skor nilai keduanya terbilang cukup jauh.

"Dalam riset yang kami lakukan, Pematang Siantar Paling toleran dengan nilai skor 1,47 sedangkan Bogor meraih skor 5,21," ujar Aminudin.

Direktur Riset SETARA Institute, Ismail Hasani menjelaskan riset kali ini ditujukan untuk mempromosikan kota-kota yang dianggap berhasil membangun dan mengembangkan toleransi di wilayahnya masing-masing.

"Sehingga hal ini dapat menjadi pemicu bagi kota-kota lain untuk bergegas, mengikuti, membangun, dan mengembangkan toleransi di wilayahnya," kata Ismail.

Riset ini dilakukan dengan menggunakan empat variabel pengukuran yang digunakan untuk melakukan penilaian.

Variabel tersebut di antaranya yaitu regulasi pemerintah yakni Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Peraturan Daerah Diskriminatif, tindakan pemerintah, regulasi sosial atau peristiwa, dan terakhir adalah demografi agama.

Variabel tersebut dinilai berdasarkan skala 1-7, dimana 1 untuk nilai terbaik atau paling toleran, dan 7 nilai terburuk atau paling intoleran.

Secara berurutan, hasil riset SETARA Institute menunjukan kota yang menduduki peringkat teratas tingkat toleransinya adalah, Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak dan Palangkaraya.

Sedangkan, sepuluh kota yang mendapat predikat toleran terbawah, di antaranya, Bogor, Bekasi, Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjar dan Tasikmalaya.



(meg/meg)