Filep duduk bersila di pendopo tempat para tahanan dan pengunjung dipertemukan. Ia masih mengenakan baju safari cokelat khas Pengawai Negeri Sipil (PNS), tetapi dengan emblem bendera Bintang Kejora di dada, topi berbendera Timor Leste, dan sepatu olahraga berwarna putih.
“Saya kira Jokowi susah meyakinkan Papua. Karena tantangan Jokowi begitu banyak. Lihat saja, apa yang dia inginkan berbeda dengan kenyataannya. Orang banyak ditembak mati,” ujar lelaki yang dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun karena mengibarkan Bendera Bintang Kejora pada 1 Desember 2004 tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filep mengakui, pribadi Jokowi sebenarnya baik dan bisa memberikan harapan bagi Indonesia. Namun, di sisi lain tantangan yang dihadapi Jokowi dalam mendamaikan Papua menurutnya tidak mudah karena banyaknya kepentingan di Bumi Cenderawasih itu. (Ikuti FOKUS: Lelaki ini Bernama Filep Karma)
Ia memicingkan matanya, mimik wajah Filep menjadi sangat serius. Ingatannya kembali ke masa Penentuan Pendapat Rakyat Papua (Pepera) pada tahun 1969, yang menurut Filep sarat manipulasi.
Lihat juga:Kisah Para Tameng Hidup Filep Karma |
Dalam buku “Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” karya Hendro Subroto, disebutkan saat itu pemerintah Indonesia mengirimkan Tentara Nasional Indonesia ke Irian Barat untuk memenangkan Pepera.
Sintong Panjaitan –mantan Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana– ketika itu masih berpangkat Letnan Satu yang memimpin kesatuan Prayudha III berkekuatan 26 orang.
“Mengingat pentingnya peranan kepala suku yang ikut menjadi anggota DMP (Dewan Musyawarah Pepera), maka Prayudha mengadakan pendekatan kepada para kepala suku,” jelas Sintong dalam buku tersebut.
Filep lantas mengenang banyak kejadian pahit pada masa Pepera. “Pada tanggal 25 Maret terdapat laporan, sekitar 80 orang pelajar yang lari ke hutan, berkumpul di suatu tempat di tepi Sungai Pami. Dini hari setelah itu, banyak nyawa kemudian melayang,” katanya.
Lihat juga:Cerita Filep Karma dari Balik Jeruji Abepura |