Gelak tawa terlontar dari mulut Setya, Fadli, dan Fahri saat para pelakon ketoprak menjadikan saham Freeport sebagai candaan. Kelakar bertema ‘minta saham’ dan ‘tingkah anggota Dewan’ muncul di sandiwara itu antaran belakangan ramai dugaan kasus pencatutan nama Presiden demi meminta jatah saham ke Freeport yang sedang berupaya memperpanjang kontrak karya di Indonesia.
Butet yang dimaksud Miing ialah Butet Kertaradjasa, pemeran teater yang menjadi salah satu bintang ketoprak itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertunjukan teater yang dihelat PDIP ini dihadiri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan para pengurus partainya, termasuk sang putri Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani; dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.
Setelah acara rampung, Setya tak tampak keluar dari pintu utama. Dia tak lagi terlihat saat Fadli Zon dan Fahri Hamzah keluar bersamaan beberapa menit setelah Megawati dan Puan melangkah keluar.
Muslihat dan pengkhianatan
‘Bangun Majapahit’ yang sarat muatan politik, menurut Megawati, diangkat dari sejarah bangsa. “Bagaimana sebuah pergulatan politik pecah dan menunjukkan pertempuran," kata Presiden RI kelima itu.
Mega berharap para politikus yang hadir dapat mengambil hikmah dari ketoprak itu. “Karena ini sebuah pergumulan, kalau untuk bangsa pasti selalu ada solusinya, dan solusi akhirnya selalu akan membawa kebaikan," ujarnya.
Fahri Hamzah mengaku dapat mengambil hikmah dari kisah politik yang terjadi pada era Kerajaan Majapahit itu. "Ada pembunuhan, pengkhianatan. Kalau dulu pakai keris, sekarang pakai muslihat dan strategi, segala macam. Itulah politik yang sebetulnya, yang riil," ujar legislator Partai Keadilan Sejahtera itu.
Politik, kata Fahri, akan selalu jadi bagian paling nyata dari cara kekuasaan didirikan. Ia berpendapat politik merupakan seni yang indah meski terdapat ‘tikam’menikam’ di dalamnya.
Lebih lanjut, Fahri menganggap politik di Indonesia kini makin beradab, tanpa pertumpahan darah dan kekejaman yang ditunjukkan secara frontal.
‘Tidak boleh politik sangat kotor, karena itu saya setuju bahwa kita menonton kesenian dalam rangka memperlembut, memperhalus perasaan kita supaya tidak menjadi political animal, mesin atau hewan kekuasaan,” kata Fahri.
"Politik mengantarkan kita pada pertengkaran, perbedaan pendapat, saling meniadakan. Tapi di dalamnya tetap harus dijaga etika, moral, kualitas, keluhuran, untuk tidak terjebak pada anggapan bisa menggunakan berbagai macam cara dalam politik," ujar Fahri.
Sistem demokrasi yang dianut banyak negara di dunia saat ini, termasuk Indonesia, dinilai Fahri sebagai peradaban kekuasaan yang maju. Tinggal negeri ini perlu belajar lebih lanjut karena usia demokrasi di Indonesia belum cukup lama. (agk)