Sulitnya Memberi Pelayanan Kesehatan di Papua

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Senin, 30/11/2015 03:50 WIB
Sulitnya Memberi Pelayanan Kesehatan di Papua Ratusan mahasiswa Papua saat berunjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta, Senin, 1 Desember 2014, meminta pemerintah Indonesia memberi kebebasan dan hak menentukan nasib sendiri. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki topografi yang bervariasi seperti dataran tinggi yang masih dipadati hutan hujan tropis, dataran rendah berawa, padang rumput, lembah, danau, dan laut yang bersih membuat Papua menjadi salah satu tempat terindah di Indonesia. Namun, tak selamanya keindahan itu membawa banyak manfaat. Keragaman topografi tersebut ternyata menjadi tantangan tersendiri bagi Papua untuk berkembang.

Salah satu hal yang paling dipengaruhi kondisi alam Papua adalah perkembangan kesehatan. Tersebarnya masyarakat yang bermukim di dataran tinggi, dataran rendah, atau lembah dan masih lekatnya adat istiadat dan kepercayaan masyarakat, membuat bidang kesehatan sulit untuk berkembang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giyai, menyadari daerahnya memang cukup tertinggal di bidang pelayanan kesehatan. Tak perlu berbicara pengobatan canggih untuk kanker atau penyakit kardiovaskular lainnya, masalah sanitasi pun Papua masih jauh tertinggal.


"Untuk Papua memang tidak mudah. Masih ada keterikatan budaya yang masih kuat. Ada suku tertentu kalau menstruasi atau melahirkan harus menyendiri pada gubuk tertentu karena ada kepercayaan kalau darahnya dilihat atau disentuh orang lain nanti sakit demam," kata Aloysius saat ditemui CNN Indonesia usai acara Deklarasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di Biak, Papua, baru-baru ini.

Hal ini menyebabkan masyarakat Papua mengesampingkan pelayanan kesehatan oleh petugas medis profesional. Bahkan, Aloy mengatakan lebih dari 60 persen penduduk masih lebih memilih ke dukun tradisional ketika sakit. Petugas kesehatan bukan menjadi prioritas mereka.

"Ada juga yang hanya berdoa. Mereka merasa kalau lebih khusuk berdoa kepada Tuhan, Tuhan bisa membantu mereka, karena Tuhan yang menyembuhkan," ujar Aloy.

Dia juga mengatakan, sebagian besar masyarakat Papua, apalagi yang tinggal di pedalaman, juga masih percaya dengan obat tradisional.

Banyaknya tanaman obat di sekeliling mereka, membuat penduduk lebih menilih meracik obat herbal sendiri dibandingkan harus pergi ke puskesmas. Hal ini sudah dilakukan secara turun temurun dan dipercaya mujarab.

Tidak adanya sarana kesehatan di pedalaman dan kampung-kampung yang terisolasi juga menjadi tantangan tersendiri. Jarak puskesmas seringkali sangat jauh dari tempat tinggal masyarakat pedalaman. Akibatnya mereka sulit menjangkau petugas kesehatan dan petugas kesehatan pun sulit menjangkau mereka.

Belum lagi soal petugas kesehatan yang jumlahnya masih sangat sedikit. Bukannya tidak memperjuangkan, Aloy mengatakan pihaknya sedang berupaya terus untuk melengkapi petugas kesehatan di wilayahnya dan tentunya butuh waktu yang lama.

Pelayanan kesehatan

Melihat Papua yang begitu tertinggal dalam bidang kesehatan, membuat pemerintah setempat harus putar otak melakukan pembenahan. Akhirnya, Aloy beserta Dinas Kesehatan Provinsi Papua memilih menerapkan konsep mobile clinic untuk membenahi pelayanan demi memajukan kesehatan untuk masyarakatnya.

Mobile clinic memiliki konsep jemput bola. Masyarakat tak perlu lagi pergi ke pusat kesehatan untuk mencari petugas kesehatan, tapi petugas kesehatan yang akan mendatangi mereka, terutama untuk masyarakat yang berada di pedalaman.

Selama ini, kata Aloy, pola penanggulangan dan pelayanan kesehatan di Papua keliru. Mekanisme pelayanan yang diterapkan selama ini disamakan dengan Pulau Jawa, di mana petugas puskesmas harus tetap berada di puskesmas menunggu pasien datang. Padahal kondisinya amatlah berbeda.

Menurut Aloy, pelayanan kesehatan di Papua seharusnya dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu pelayanan terapung, pelayanan kaki telanjang, dan pelayanan udara.

Yang dimaksud pelayanan terapung adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan melalui jalur perairan. Petugas kesehatan yang terdiri dari dokter, bidan, perawat, ahli gizi, sanitarian, analis, asisten apoteker, dan promosi kesehatan, menyusuri sungai, menyebrangi danau, maupun laut untuk melakukan pelayanan kesehatan.

Sementara itu, pelayanan kaki telanjang adalah pelayanan yang dilakukan melalui jalur darat. Biasanya para petugas kesehatan mendaki gunung, menyusuri hutan berhari-hari untuk mengobati pasien di sebuah desa terpencil. Medan yang berat menjadi halangan tersendiri buat para petugas kesehatan dalam pelayanan kaki telanjang tersebut.

Sedangkan untuk pelayanan udara, dilakukan dengan menggunakan helikopter atau pesawat terbang yang kecil. Tujuannya, agar bisa menjangkau daerah pedalaman dalam waktu yang singkat.

Semua tim, kata Aloy, berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Mengobati masyarakat yang sakit. Jika bisa diobati dan direhabilitasi di tempat, mereka akan melakukan terapi di tempat. Kalau sudah tak memungkinkan mereka akan dirujuk ke pusat kesehatan baik di kota maupun di luar Papua.

Program yang baru dimulai pada 2015 ini masih dalam tahap pemantauan. Aloy akan melakukan evaluasi terhadap program mobile clinic ini untuk dilakukan perbaikan.

Tapi, sejauh ini, hasil pemantauan di lapangan dirasa sangat membantu masyarakat karena sifatnya yang jemput bola.

"Pelayanan ini sangat membantu masyarakat. Sebab biasanya saat puskesmas buka, yang datang bisa dihitung pakai jari karena harus bertani, melaut, atau berkebun. Saat puskesmas tutup, mereka baru pulang," ujar mantan Direktur Rumah Sakit Abepura itu.

Puskesmas pun akhirnya hanya menjadi tempat penyimpanan data atau administrasi saja. Apalagi untuk di daerah-daerah terpencil karena 70 persen petugasnya harus keliling mencari pasien yang sakit.

"Gerakan pelayanannya masuk dari rumah ke rumah. Kalau pola ini yang diubah, saya kira tidak ada yang mustahil Papua bisa kita ubah," ujar Aloy. (obs/obs)