Faktor pertama, kata Ketua Subkomite Kecelakaan Udara Kapten Nurcahyo Utomo, adalah retakan solder yang terdapat pada electronic module di Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) yang terpasang di bagian ekor pesawat. RTLU berfungsi untuk mengatur ketinggian pesawat.
Kerusakan solder itu lantas menyebabkan kerusakan pada RTLU yang terjadi berkelanjutan dan terus berulang. (Simak Fokus: INVESTIGASI AIRASIA QZ8501 DIUMUMKAN)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun saat terjadi kerusakan keempat, data kotak hitam memperlihatkan adanya aktivitas berbeda yang dilakukan di dalam kokpit. Hal ini menjadi faktor ketiga penyebab kecelakaan pesawat.
Namun Nurcahyo enggan berspekulasi apa yang menyebabkan pengaturan ulang circuit breaker (CB) tersebut. Indikasi yang paling memungkinkan adalah salah satu dari pilot atau kopilot mencabut CB yang ada di dekat kursi kemudi mereka.
Penyebab kecelakaan keempat adalah putusnya arus listrik itu membuat sistem autopilot berhenti berfungsi, dan akhirnya flight control logic di pesawat berubah.
"Berubah dari normal law (autopilot) menjadi alternate law (manual), rudder bergerak sebanyak dua derajat ke kiri dan berakibat pesawat berguling mencapai sudut 54 derajat," ujar Nurcahyo.
Penyebab kecelakaan terakhir adalah kondisi pesawat yang dikendalikan secara manual mengakibatkan pesawat masuk dalam upset condition, yakni kondisi di mana pilot dan kopilot tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Pesawat AirAsia QZ8501 jenis Airbus A320 hilang kontak di sekitar Selat Karimata pada 28 Desember 2014. Puing-puing pesawat yang membawa 155 penumpang dan tujuh orang kru itu ditemukan dua hari kemudian tersebar di Laut Jawa. (agk)