Dirjen Perhubungan Udara Suprasetyo mengatakan, rencana aksi itu akan mereka jalankan sebagai langkah antisipatif agar kecelakaan serupa tidak terulang. "Itulah sebenarnya tujuan investigasi kecelakaan," ujarnya di Jakarta, Kamis (3/12).
Kedua, memperketat pengawasan pada pelaksanaan pelatihan upset recovery di simulator. Suprasetyo berkata, jangka waktu pelatihan yang semula berlangsung enam setiap 12 bulan sekali, kini dipersingkat menjadi minimun enam bulan sekali. (Lihat Juga: FOKUS Investigasi QZ8501 Diumumkan)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Suprasetyo menuturkan, instansinya akan mengevaluasi sistem penanganan dan pencatatan permasalahan teknis di seluruh maskapai penerbangan nasional.
Rencana aksi keenam yang Ditjen Perhubungan Udara susun adalah memastikan pilot in command melaporkan semua kerusakan ataupun kemungkinan tidak berfungsinya peralatan pada akhir penerbangan.
Rencana aksi ketujuh Ditjen Perhubungan Udara adalah membuat edaran keselamatan terkait prosedur kerusakan mekanis secara manual maupun elektronik yang terintegrasi. (utd)