Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya, Komisaris Besar (Kombes) Risyapudin mengatakan puncak kepadatan lalu lintas dari tol dalam kota ke arah tol Cikampek diprediksi akan terjadi malam ini.
Untuk mencegah penumpukan kendaraan di jalan tol, ia mengimbau pengendara yang akan menuju Cikampek untuk tidak menggunakan jalan tol terlebih dahulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau mengantri, kasihan mesin mobil akan cepat panas dan akhirnya mogok di tengah jalan. Tadi saja kami menemukan adanya truk mogok di Cikarang Utama dan untuk mengeluarkan truk dari badan jalan itu butuh waktu yang sangat lama,” ujarnya.
“Kami sudah lakukan hal tersebut sejak jam 06.00 pagi tadi, jadi nanti pembayaran tol hanya dilakukan di gerbang keluar. Kami memang berupaya untuk mencegah mobil dari Jakarta dan Bekasi masuk ke dalam tol lagi,” ujar Risyapudin.
"Waktu masuk Gerbang Tol Karang Tengah sudah macet parah. Karena penuh, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk keluar lewat perumahan Bumi Serpong Damai (BSD)," kata Indra kepada CNN Indonesia, Rabu (24/12).
Dari perumahan BSD, Indra masuk kembali ke tol Lingkar Luar Jakarta, yakni di Pondok Indah. Namun, kemacetan kembali terjadi di tol Lingkar Luar Jakarta.
"Nah, jelang Pondok Indah itulah macet total terjadi. Merambat terus dan kecepatan hanya 10 km/ jam lalu berhenti lama hingga 3 menit-an," kata Indra menjelaskan.
Mulai frustasi dengan kemacetan yang ada, Indra mengatakan mobil pun keluar di pintu tol Pasar Minggu. Dari situ, ia bergerak menuju arah Pancoran. Kondisi jalan di luar tol, kata dia, justru lancar.
Namun, ketika ia masuk kembali ke tol dalam kota di Gatot Subroto, mobil pun kembali berhenti total. Indra mengatakan akibat panjangnya antrian, petugas Jasa Marga memutuskan untuk menggratiskan beberapa pintu tol agar memperpendek antrian mobil.
"Jadi, semuanya gratis mau masuk tol enggak bayar. Katanya biar enggak macet," kata Indra.
Indra mengatakan sejak masuk tol dalam kota tersebut, kendaraan bergerak hanya 5 kilometer per jam. Hal itu membuat anggota keluarganya frustasi.
Selain kondisi kemacetan yang parah, sistem buka tutup tempat pemberhentian atau rest area juga membuat para pengguna jalan putus asa. Makanan dan minuman yang dijual di tempat pemberhentian pun, ujarnya, banyak yang habis.
"Tidak bisa istirahat, tidak bisa buang air. Makanya, banyak yang berhenti di bahu jalan untuk tidur atau buang air besar,"ujarnya. (utd)