"Ya, tahun 2015 memang adalah tahun penuh dengan tantangan ya, karena persoalan konsolidasi politik, kemudian juga masih adanya dua kubu di parlemen pada waktu itu, KIH dan KMP," ujar politisi yang akrab disapa Pram ini di Gedung III Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Rabu (30/12).
Tak hanya persoalan politik, Pram menyebut masalah kebakaran hutan dan lahan yang berakibat mengepulnya asap pekat di hampir seluruh wilayah Indonesia selama berbulan-bulan sangat menyita perhatian pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami meyakini tahun 2016, mudah-mudahan, ekonominya menjadi lebih baik. Hal itu terindikasi dari sekarang, misalnya, kebutuhan semen yang sekarang ini mengalami kekurangan karena kebutuhan untuk membangun infrastruktur itu luar biasa, termasuk baja, dan sebagainya," ujarnya.
Politisi Partai Demokrasi Indonesia itu menilai bahwa setelah dilakukannya perombakan (reshuffle) kabinet jilid I pada Agustus lalu, ada delapan paket kebijakan ekonomi yang ternyata, menurut masyarakat, telah mampu menstabilkan perekonomian negara.
"Setelah reshuffle kabinet pada Agustus, ada delapan paket kebijakan yang ternyata bisa menstabilkan ekonomi kita dan membuat Indonesia menjadi tempat investasi yang menarik di dunia usaha," katanya.
Pram pun menyimpulkan, persoalan stabilisasi politik berjalan relatif stabil pada 2015, meskipun ada beberapa kegaduhan di parlemen terkait bermacam hal. "Tetapi dilihat secara nasional politik relatif stabil," ujarnya. (bag)