Yusuf menjelaskan, pihaknya menemukan adanya aliran dana dari luar negeri yang diberikan oleh seorang oknum di negeri tetangga di daerah selatan Indonesia yang ditransfer ke rekening bank miliknya dan milik istrinya di Indonesia. Oknum ini mendapatkan sumber dana dari banyak negara, termasuk negara-negara di Timur Tengah.
"Dan di antara uang itu, ada yang dikirim ke yayasan. Nah konteks yayasan itu kami tidak clear, apakah sedekah atau bantuan. Dari yayasan dikirim kepada oknum yang berangkat ke daerah konflik," ujar Yusuf di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (18/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi omongan Menkopolhukam (Luhut Binsar Pandjaitan mengenai adanya pasokan senjata teroris didapat dari daerah Mindanao, Filipina) itu linked dengan apa yang kami temukan," katanya.
Lihat juga:Teror Sarinah, Kegagalan Intelijen? |
Yusuf pun menekankan agar setiap pemberi jasa keuangan, termasuk jasa pengiriman uang bisa lebih ketat menjalankan prinsip Know Your Customer (KYC) pada pelanggan. Dengan begitu, ucapnya, maka penggunaan uang untuk hal yang tidak resmi bisa dicegah sejak dini.
"Yang transfer itu kelihatan terbatas, tapi tarik tunai kan banyak. Jadi dia punya rekening banyak, terus banyak ambil cash. Kasih pada siapa cash itu, diberikan itu, susah mengawasinya, salah satu cara dengan memperketat KYC, jadi (bisa diketahui) customer-nya, siapa orangnya," katanya.
Yusuf masih enggan menyebutkan nama negara di bagian selatan Indonesia yang menjadi asal aliran dana tersebut. Yang jelas, tuturnya, hanya satu negara yang rekening banknya diketahui mengalirkan duit dari beberapa sumber untuk membiayai teror di Thamrin beberapa hari lalu. Transaksi aliran dana tersebut mulai dilakukan pada Juni 2015. (bag)